Jalur Gaza kembali dilanda kekerasan mematikan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, serangan militer Israel pada Rabu (4/2/2026) waktu setempat menewaskan sedikitnya 18 individu, termasuk empat anak-anak, menyusul gempuran intensif yang melibatkan tembakan tank dan serangan udara.
Ironisnya, di tengah eskalasi ini, otoritas Israel juga mengambil keputusan kontroversial dengan menghentikan sementara evakuasi pasien melalui perlintasan perbatasan Rafah. Perlintasan vital yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir ini baru saja dibuka kembali awal bulan ini setelah penutupan hampir dua tahun, menawarkan secercah harapan bagi warga Palestina yang membutuhkan perawatan medis mendesak.

Menurut pernyataan militer Israel yang dikutip Reuters, serangan balasan tersebut dipicu oleh insiden penembakan terhadap tentara Israel oleh seorang pria bersenjata, yang mengakibatkan seorang tentara cadangan mengalami luka serius. Sebagai respons, tank-tank Israel melancarkan tembakan ke Jalur Gaza, disusul oleh serangkaian serangan udara.
Gempuran udara dan darat Israel dilaporkan menyasar Kota Gaza, pusat populasi terbesar di wilayah tersebut, serta Khan Younis di bagian selatan kantong Palestina. Yang lebih mencemaskan, rentetan serangan ini terjadi saat kesepakatan gencatan senjata di Gaza seharusnya masih berlaku, menimbulkan pertanyaan serius tentang keberlanjutan perdamaian.
Seorang pejabat kesehatan di Gaza mengonfirmasi kepada Reuters bahwa Israel secara sepihak menghentikan pergerakan pasien melalui Rafah menuju Mesir. Keputusan ini datang hanya dua hari setelah perlintasan tersebut dibuka kembali, memupus harapan banyak pasien yang telah lama menanti.
Sebelumnya, pembukaan kembali Rafah sempat menjadi jalur penyelamat bagi segelintir warga Palestina yang membutuhkan perawatan mendesak. Juru bicara Bulan Sabit Merah mengungkapkan, pasien-pasien yang telah tiba di rumah sakit Khan Younis, siap untuk menyeberang demi perawatan medis yang lebih baik, justru menerima kabar penundaan evakuasi. "Mereka menghubungi para pasien dan mengatakan bahwa hari ini tidak ada perjalanan sama sekali, perlintasan ditutup," tutur Raja’a Abu Teir, salah satu pasien yang seharusnya dievakuasi, kepada Reuters dari rumah sakit.
Situasi semakin memilukan ketika beberapa pasien terpaksa bertahan di dalam ambulans, terjebak dalam ketidakpastian setelah mendengar bahwa penyeberangan Rafah tidak mungkin dilakukan.
Di sisi lain, COGAT, badan Israel yang bertanggung jawab atas akses ke Gaza, mengeluarkan pernyataan pada Rabu (4/2) yang mengklaim bahwa perlintasan Rafah tetap beroperasi. Namun, mereka menegaskan belum menerima detail koordinasi yang esensial dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk memfasilitasi penyeberangan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, WHO belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim COGAT. Perlu diingat bahwa pembukaan kembali perlintasan Rafah merupakan salah satu poin kunci dalam kesepakatan gencatan senjata Gaza yang telah berlaku sejak Oktober tahun lalu.
Sebelumnya, pada Selasa (3/2) waktu setempat, petugas medis Gaza melaporkan kepada Reuters bahwa 16 pasien dan 40 pendamping mereka berhasil menyeberang ke Mesir melalui Rafah. Secara terpisah, sumber kepolisian Hamas juga mengonfirmasi kepada Reuters bahwa setidaknya 40 orang telah melintasi perbatasan menuju Mesir pada Selasa malam.

