Internationalmedia.co.id – News – Teheran mengeluarkan peringatan tegas. Panglima militer Iran menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam dan membiarkan diri diancam oleh kekuatan eksternal. Pernyataan ini disampaikan pada Rabu (7/1/2026), di tengah meningkatnya ketegangan setelah Amerika Serikat dan Israel secara terbuka mendukung gelombang protes anti-pemerintah yang melanda Iran.
Jenderal Amir Hatami, seperti dilansir kantor berita Fars, menyatakan bahwa "Republik Islam Iran menganggap peningkatan retorika permusuhan terhadap bangsa Iran sebagai ancaman dan tidak akan mentolerir kelanjutannya tanpa memberikan respons." Pernyataan ini menggarisbawahi sikap defensif namun tegas Iran terhadap potensi intervensi asing.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan melakukan intervensi jika ada demonstran yang tewas dalam kerusuhan. Bersamaan dengan itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga telah menyuarakan dukungannya terhadap aksi-aksi protes tersebut, semakin memanaskan situasi geopolitik di kawasan.
Sementara itu, gelombang demonstrasi yang telah berlangsung lebih dari sepekan di Iran telah menelan korban jiwa yang signifikan. Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan, hingga Selasa (6/1) waktu setempat, sedikitnya 35 orang meninggal dunia. Data tersebut mencakup 29 pengunjuk rasa, empat anak-anak, serta dua anggota pasukan keamanan Iran. Selain itu, lebih dari 1.200 orang dilaporkan telah ditahan sejak protes dimulai.
Menurut HRANA, yang informasinya dihimpun dari jaringan aktivis di dalam negeri dan dinilai akurat dalam pelaporan kerusuhan sebelumnya, aksi protes telah menyebar luas, menjangkau lebih dari 250 kota, desa, atau lokasi lain di 27 dari 31 provinsi di Iran. Aparat keamanan dikabarkan menggunakan kekerasan, terutama terhadap demonstran di daerah pedesaan, yang kemudian memicu gelombang protes kembali melanda kota-kota besar seperti Teheran dan Mashhad.
Di sisi lain, kantor berita Iran Fars, yang dikenal dekat dengan Garda Revolusi, melaporkan adanya korban di pihak keamanan. Sekitar 250 polisi dan 45 anggota pasukan sukarelawan Basij dikabarkan mengalami luka-luka selama serangkaian demonstrasi tersebut, menunjukkan adanya bentrokan sengit di lapangan.
