Kondisi angkutan kota (angkot) di Depok, Jawa Barat, yang memprihatinkan, mulai dari bodi ringsek hingga tanpa pelat nomor, mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Depok untuk mengambil langkah serius. Rencana revitalisasi bertahap ini diharapkan dapat menjawab keluhan masyarakat terkait angkot yang tidak layak beroperasi. Menurut laporan Internationalmedia.co.id – News, upaya perbaikan ini akan dimulai dengan menghadirkan inovasi baru dalam sistem transportasi publik. Kasi Angkutan Dalam Kota Dinas Perhubungan (Dishub) Depok, Mathaeous Ericson Siahaan, menegaskan komitmen Pemkot Depok dalam memperbaiki sektor transportasi publik.
Eric menjelaskan, langkah awal revitalisasi akan diwujudkan melalui pengoperasian angkutan berbasis listrik. Rute yang dipilih adalah Terminal Depok-Terminal Jatijajar via GDC, yang dijadwalkan akan segera beroperasi. Ini merupakan bagian dari upaya bertahap namun pasti untuk meningkatkan kualitas layanan angkutan umum di Depok, sekaligus memberikan pilihan transportasi yang lebih modern dan ramah lingkungan.

Sorotan utama juga tertuju pada angkot D05, D04, dan D41 yang seringkali ditemukan dalam kondisi tidak layak. Ericson mengklarifikasi bahwa ketiga rute tersebut merupakan angkutan perkotaan lintas batas wilayah. Ini berarti Kota Depok hanya berfungsi sebagai lintasan, dengan tugas Dishub Depok lebih terfokus pada aspek pengawasan. Angkot D05 bernaung di bawah koperasi yang berdomisili di Depok dan Kabupaten Bogor, D41 di bawah koperasi DKI dan Kabupaten Bogor, sementara D04 berafiliasi dengan koperasi di DKI Jakarta.
Untuk mengatasi tantangan pengawasan angkutan lintas batas ini, Dishub Depok dalam waktu dekat akan berkoordinasi erat dengan Dishub DKI Jakarta dan Dishub Kabupaten Bogor. Tujuannya adalah untuk melakukan pengawasan lapangan yang lebih intensif, memastikan angkot-angkot tersebut memenuhi standar pelayanan minimal sesuai aturan yang berlaku, demi keselamatan dan kenyamanan penumpang.
Investigasi lapangan oleh internationalmedia.co.id baru-baru ini menyusuri Jalan Margonda Raya hingga Citayam, Depok, mengungkap kondisi memprihatinkan. Angkot 04 rute Depok Timur-Pasar Minggu terlihat tanpa bumper belakang dan pelat nomor yang sudah mati. Sementara itu, angkot 05 rute Terminal Depok-Citayam-Bojonggede menunjukkan karat di atap, tanpa pelat nomor, bahkan ada yang kehilangan jendela atau pintu. Asap knalpot yang pekat dan bau tak sedap juga menjadi pemandangan umum, meskipun angkot-angkot ini masih beroperasi melayani penumpang.
Rifki (30), salah seorang penumpang, mengungkapkan kekhawatirannya. "Sebagai penumpang, saya kadang merasa kondisi angkot sudah tidak layak. Banyak yang bodinya mengkhawatirkan, bahkan bumper belakangnya sudah tidak ada," ujarnya kepada internationalmedia.co.id pada Selasa lalu. Ia menambahkan, kondisi ini menimbulkan rasa takut akan potensi kecelakaan, seperti rem blong, mengingat kondisi fisik kendaraan yang sudah rapuh.
Rifki berharap Pemkot Depok tidak hanya menertibkan angkot yang tidak layak, tetapi juga memberikan solusi konkret. Ia mengusulkan adanya sistem yang lebih baik, seperti ‘TransDepok’ atau model serupa JakLingko, agar pengusaha angkot tetap bisa bekerja namun penumpang juga merasa nyaman dan aman.
Senada, Dewi (61), warga lainnya, mengamini bahwa sebagian besar angkot di Depok dalam kondisi buruk. "Iya, rata-rata jelek. Ada beberapa yang bagus, tapi mayoritas memprihatinkan," kata Dewi. Ia mendambakan angkot Depok yang lebih modern dan tertib, seperti sistem JakLingko yang menggunakan kartu, untuk menghindari praktik oknum sopir yang meminta ongkos lebih dari tarif seharusnya.
Dengan berbagai keluhan dan harapan dari masyarakat, Pemkot Depok melalui Dishub berkomitmen penuh untuk mewujudkan transportasi publik yang lebih aman, nyaman, dan modern bagi warganya. Langkah-langkah revitalisasi dan koordinasi lintas wilayah diharapkan dapat segera membawa perubahan positif yang signifikan di sektor angkutan umum Depok.
