Kemacetan dan dinamika jalan raya seringkali memicu emosi pengemudi, mengubah perjalanan menjadi arena frustrasi. Namun, sebuah survei terbaru mengungkap fakta mengejutkan: bukan suara klakson yang menjadi pemicu utama kemarahan di jalanan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, temuan ini datang dari DiscoverCars yang menyoroti perilaku pengemudi di berbagai negara, memberikan perspektif baru tentang fenomena "road rage".
Survei yang dilakukan pada April 2026 ini melibatkan lebih dari 700 responden, sebagian besar adalah wisatawan internasional yang menggunakan platform penyewaan mobil DiscoverCars. Mereka diminta untuk membagikan pengalaman mereka mengenai kemarahan di jalan raya (road rage) serta perilaku pengemudi lain yang paling mengganggu. Responden juga diminta menilai gaya mengemudi di negara mereka sendiri menggunakan skala 1 (sangat tenang) hingga 5 (sangat agresif), serta menyebutkan merek mobil, negara, dan kota yang mereka asosiasikan dengan gaya mengemudi agresif.

Hasilnya menunjukkan bahwa hampir semua orang pernah merasa kesal saat mengemudi; 9 dari 10 pengemudi (90%) mengaku terganggu oleh pengemudi lain. Menariknya, meskipun tingkat kekesalan tinggi, mayoritas pengemudi masih berusaha menahan diri. Sekitar 65% hanya sesekali membunyikan klakson, dan 32% bahkan mengaku tidak pernah melakukannya sama sekali. Ini mengindikasikan bahwa pemicu emosi lebih dalam dari sekadar respons instan.
Lalu, apa saja perilaku pengemudi lain yang paling sering memicu kemarahan? Survei ini merinci beberapa poin penting yang menjadi sumber frustrasi utama:
- Tidak menyalakan lampu sein saat berbelok (56%): Kurangnya isyarat ini seringkali menimbulkan kebingungan dan bahaya.
- Menempel kendaraan di depan (tailgating) (46%): Perilaku ini dianggap agresif dan mengancam keselamatan.
- Mengemudi terlalu lambat di jalur menyalip (43%): Menghambat arus lalu lintas dan memicu ketidaksabaran.
- Pengemudi yang tidak fokus atau terdistraksi (39%): Penggunaan ponsel atau kurangnya perhatian seringkali dianggap membahayakan.
- Mengerem mendadak (20%): Dapat menyebabkan kecelakaan beruntun dan membuat pengemudi di belakang terkejut.
Selain perilaku, survei ini juga mengidentifikasi negara-negara dengan pengemudi paling agresif atau kerap marah di jalan. Italia menduduki peringkat teratas, baik menurut penilaian warganya sendiri maupun persepsi global.
Berikut adalah daftar negara dengan pengemudi paling agresif berdasarkan survei DiscoverCars:
- Italia (23% persepsi global, skor 3,5/5 penilaian warga): Menjadi negara yang paling banyak disebutkan. Kota Naples dan Roma tercatat sebagai kota dengan pengemudi paling agresif di negara ini.
- Britania Raya (11% persepsi global): Berada di posisi kedua, dengan London sebagai kota yang paling sering disebut memiliki pengemudi agresif di seluruh dunia.
- Amerika Serikat (9% persepsi global): AS berada di posisi ketiga, dengan New York sebagai kota paling agresif di negara tersebut.
- Prancis (5% persepsi global): Prancis memiliki skor yang sama dengan Australia. Di Prancis, Paris menjadi kota yang paling disoroti.
- Australia (5% persepsi global): Meskipun penduduknya menilai negara mereka tenang, 5% responden global tetap mengasosiasikannya dengan perilaku agresif.
Data dari DiscoverCars ini memberikan gambaran komprehensif tentang faktor-faktor yang memicu kemarahan di jalan raya, melampaui asumsi umum tentang klakson. Kesadaran akan perilaku-perilaku ini diharapkan dapat mendorong budaya berkendara yang lebih aman dan toleran di seluruh dunia, demi menciptakan perjalanan yang lebih nyaman bagi semua pengguna jalan.
