Internationalmedia.co.id – News – Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI kembali mengukuhkan komitmennya dalam menyadarkan generasi muda akan urgensi isu perbatasan negara. Melalui program kuliah umum interaktif BNPP MENYALA (Menyapa Langsung Praja dan Mahasiswa) yang digelar di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Kampus Sulawesi Utara pada Selasa (9/6) lalu, BNPP secara tegas mengajak para calon pemimpin bangsa untuk menjadi garda depan pembangunan dan penjaga kedaulatan di wilayah perbatasan.
Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan BNPP RI, Irjen Pol. Edfrie R Maith, menyampaikan pesan penting dari Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian selaku Kepala BNPP RI. Dalam arahannya, Mendagri menekankan bahwa pemahaman perbatasan tidak boleh hanya sebatas teori akademik, melainkan harus diwujudkan sebagai medan pengabdian nyata bagi bangsa.

"Saya berharap para praja dan mahasiswa memiliki kepedulian serta komitmen kuat untuk turut berkontribusi dalam pembangunan kawasan perbatasan dan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Irjen Pol. Maith, mengutip arahan Mendagri dalam keterangan tertulis yang diterima internationalmedia.co.id. Ia menambahkan bahwa BNPP MENYALA adalah inisiatif langsung Menteri Dalam Negeri, berangkat dari kebutuhan untuk memperkenalkan peran dan fungsi BNPP RI secara lebih luas kepada masyarakat, khususnya di kawasan perbatasan, sebagai fondasi penting dalam menjaga keutuhan wilayah.
Plt. Kepala Biro Keuangan, Umum, dan Humas BNPP RI, Belly Isnaeni, menjelaskan bahwa BNPP MENYALA merupakan bagian integral dari strategi komunikasi publik BNPP RI. Program ini dirancang khusus agar isu perbatasan terasa lebih dekat dan relevan bagi generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa. Ia menegaskan bahwa perbatasan bukan sekadar garis di peta, melainkan cerminan kedaulatan dan martabat bangsa. "Perbatasan adalah ruang hidup bersama yang menunjukkan kehadiran negara, kepastian hukum, keadilan, dan perlindungan bagi rakyat," tegasnya.
Dari sudut pandang strategis, Kelompok Ahli BNPP RI, Robert Simbolon, mengajak praja dan mahasiswa melihat perbatasan sebagai entitas yang utuh, membentuk sistem sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang saling terkait. Ia menggarisbawahi fungsi ganda perbatasan, baik secara formal maupun substansial: ke dalam sebagai pengaturan administrasi dan hukum nasional, serta ke luar sebagai penanda awal hubungan internasional. Tantangan pengelolaan perbatasan Indonesia, lanjut Robert, semakin kompleks mengingat karakter wilayah Indonesia yang 75 persen berupa perairan dan sangat terbuka terhadap mobilitas lintas negara.
Sementara itu, Kepala Bidang Koordinasi Pelaksanaan Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan, Sri Ratna Pasiak, menyoroti peran vital pemerintah daerah, khususnya di Provinsi Sulawesi Utara. Menurutnya, perbatasan adalah "wajah negara" yang merefleksikan sejauh mana negara hadir bagi masyarakatnya. Sri Ratna juga memaparkan potensi unggulan kawasan perbatasan Sulawesi Utara, mulai dari komoditas pertanian seperti pala, kelapa, dan cengkeh, hingga potensi kelautan dan perikanan yang menjanjikan peluang besar untuk mendorong perdagangan nasional dan ekspor.
Dari perspektif akademik, Koordinator Program S3 Doktor Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Manado, Goinpeace H. Tumbel, memaparkan persoalan mendasar yang masih dihadapi kawasan perbatasan, seperti keterbatasan akses dan mutu pendidikan, infrastruktur dasar, serta risiko krisis identitas dan nasionalisme. Ia menekankan bahwa konsep bela negara harus diperluas, tidak hanya dimaknai melalui pendidikan militer, tetapi juga melalui penguasaan kompetensi, soft skill, dan hard skill yang mumpuni agar generasi muda mampu berpartisipasi secara inklusif dalam pembangunan bangsa.
Melalui BNPP MENYALA, BNPP RI berharap generasi muda tidak hanya memahami kompleksitas pengelolaan perbatasan, tetapi juga bertransformasi menjadi agen perubahan yang peduli, berkapasitas, dan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat. Forum dialog lintas pemangku kepentingan ini menjadi bukti nyata keseriusan BNPP RI dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang siap menjaga kedaulatan sekaligus mendorong kawasan perbatasan Indonesia menuju wilayah yang maju, sejahtera, dan berdaya saing, selaras dengan visi Indonesia Emas 2045.
Sebagai informasi, kegiatan ini merupakan edisi ketiga BNPP MENYALA yang mengangkat tema ‘Peran Strategis Generasi Muda dalam Pembangunan Kawasan Perbatasan untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045’. Sebelumnya, program serupa telah sukses dilaksanakan di IPDN Kampus Kalimantan Barat dan Politeknik Ben Mboi, Universitas Pertahanan RI Belu, Nusa Tenggara Timur.
