Internationalmedia.co.id – Ketegangan di perbatasan Lebanon-Israel kembali memanas. Hizbullah bersumpah akan membalas dendam atas kematian komandan militernya, Haytham Ali Tabtabai, yang tewas dalam serangan Israel di Beirut. Ancaman ini dilontarkan langsung oleh pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, dalam pidato yang disiarkan televisi.
Qassem menyebut serangan Israel sebagai "agresi terang-terangan dan kejahatan keji." Ia menegaskan bahwa Hizbullah memiliki hak untuk membalas dan akan menentukan sendiri kapan dan bagaimana pembalasan itu akan dilakukan. Pernyataan ini sekaligus menepis anggapan bahwa Hizbullah akan berdiam diri setelah kehilangan salah satu komandan seniornya.

Menurut Qassem, Tabtabai sedang mempersiapkan "tindakan selanjutnya" bersama empat ajudannya ketika serangan Israel terjadi. Kematian Tabtabai menjadi pukulan telak bagi Hizbullah, mengingat posisinya sebagai komandan paling senior yang tewas sejak gencatan senjata November 2024.
Israel sendiri meningkatkan serangan ke Lebanon dengan alasan mencegah Hizbullah mempersenjatai diri kembali. Namun, Hizbullah menilai tindakan Israel sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata dan kedaulatan Lebanon.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) juga mengecam keras pembunuhan Tabtabai dan memperingatkan Israel akan menghadapi "respons yang menghancurkan." Kecaman ini menambah daftar panjang pihak yang mengecam tindakan Israel, termasuk Kementerian Luar Negeri Iran yang menyebutnya sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata."
Dengan ancaman pembalasan dari Hizbullah dan dukungan dari Iran, eskalasi konflik di perbatasan Lebanon-Israel tampaknya tak terhindarkan. Dunia kini menanti, kejutan apa yang akan disiapkan Hizbullah untuk Israel.
