Internationalmedia.co.id – News – PAM JAYA baru-baru ini mengambil langkah tegas dengan menutup seluruh filling station atau fasilitas pengisian air bersih untuk mobil tangki yang sebelumnya beroperasi secara ilegal. Selain itu, penertiban master meter (meteran induk) ilegal juga gencar dilakukan. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi besar untuk menekan angka Non-Revenue Water (NRW) atau selisih pencatatan air, yang saat ini masih berada di kisaran 44-45 persen. Direktur Utama PAM JAYA, Arief Nasrudin, menegaskan bahwa filling station yang sebelumnya dikelola pihak lain dan dijual kepada masyarakat kini telah ditutup total. "Filling station kita, itu hanya buat layanan ketika ada emergensi, dan dikelola oleh PAM, tidak lagi dikelola oleh koperasi atau siapa pun," ujar Arief dalam kunjungan ke fasilitas PAM JAYA, baru-baru ini.
Langkah penertiban tidak berhenti pada filling station. PAM JAYA juga fokus menertibkan master meter ilegal di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat, yang sebelumnya dikelola oleh mitra. Dari sejumlah titik yang telah ditertibkan, Arief menyebutkan masih tersisa tiga titik yang dianggap menjadi tantangan berat untuk diselesaikan.

Arief menjelaskan, pihaknya mengalami kehilangan komersial (commercial losses) sekitar 20 persen dari total NRW sebesar 45 persen. Ia mengungkapkan bahwa penambahan sekitar 3.000 sambungan pelanggan yang telah dilakukan seharusnya secara matematis dapat menurunkan angka NRW. Namun, realisasinya saat ini masih bertahan di angka 44 persen. "Saya belum bisa justify dengan kondisi, karena survei ulang belum dilakukan lagi sejak 2024 disebabkan biayanya yang mahal," ungkap Arief, menyoroti tantangan dalam evaluasi akurat.
Berdasarkan PermenPU Nomor 18/PRT/M/2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan Sistem Air Minum, NRW terbagi dalam tiga kategori utama. Pertama, konsumsi resmi tak berekening, yang mencakup air untuk mobil tangki darurat, program Kartu Air Sehat (KAS), flushing jaringan, dan perbaikan kebocoran. Kedua, kehilangan komersial, meliputi sambungan ilegal, pencurian air, meter pelanggan tidak akurat, kesalahan pembacaan meter, hingga kesalahan billing. Ketiga, kehilangan fisik, yang mencakup kebocoran pipa transmisi, kebocoran pipa distribusi, serta air pada pipa dan reservoir jaringan. Arief juga menambahkan bahwa pola konsumsi musiman, seperti periode Ramadan, Lebaran, dan tahun baru, turut mempengaruhi fluktuasi NRW, yang cenderung meningkat pada semester pertama sebelum kembali turun di akhir tahun.
Untuk menekan NRW lebih jauh dan memastikan pasokan air bersih yang lebih efisien, PAM JAYA memiliki rencana ambisius untuk mengganti sekitar 13.000 pipa di seluruh wilayah DKI Jakarta. Proyek besar ini diperkirakan membutuhkan dana mencapai Rp 22,8 triliun dan rencananya akan melalui tahap market sounding pada Desember mendatang, menandai komitmen jangka panjang PAM JAYA dalam meningkatkan layanan air bersih di ibu kota.
