Internationalmedia.co.id – News – Sebuah insiden tragis mengguncang Medan setelah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nias, berinisial AL (27), ditemukan tewas usai melompat dari lantai 12 Apartemen Skyview Medan. Kematian AL diduga kuat dipicu oleh aksi pemerasan yang dilakukan oleh dua wanita yang dikenal melalui aplikasi kencan, yang ternyata merupakan sindikat kejahatan.
Kasus ini bermula ketika AL berkomunikasi dengan salah satu pelaku, FR (31), melalui aplikasi MiChat. Pada Jumat dini hari (10/7) sekitar pukul 03.30 WIB, AL mengundang FR ke apartemennya. Namun, FR tidak datang sendiri, melainkan membawa rekannya, JS (29). Setibanya di lokasi, AL menyadari bahwa foto FR di aplikasi tidak sesuai dengan wajah aslinya, sehingga ia menolak berhubungan badan dengan FR dan memilih JS.

Sebelum FR meninggalkan kamar untuk menunggu di lorong, ia meminta uang pembatalan (cancel fee) sebesar Rp 400 ribu kepada korban. Sementara itu, JS menetapkan tarif layanan sebesar Rp 850 ribu. Korban kemudian mentransfer total uang tersebut ke rekening yang diberikan oleh FR.
Setelah berhubungan badan dengan JS, korban meminta layanan tambahan. Namun, tidak ada kesepakatan harga untuk layanan ekstra ini sebelumnya. Begitu selesai, JS memanggil FR kembali masuk ke dalam kamar. Di sinilah puncak pemerasan terjadi. Kedua pelaku secara tiba-tiba meminta uang tambahan sebesar Rp 4.500.000 untuk layanan ekstra yang baru saja diberikan, jumlah yang empat kali lipat dari tarif awal.
Korban AL menolak membayar jumlah fantastis tersebut. Namun, para pelaku terus mendesak dan bahkan memaksa korban untuk menunjukkan saldo rekeningnya melalui ponsel. Situasi tegang ini berlangsung di dalam kamar yang memiliki balkon, berjarak sekitar satu meter dari pintu. Diduga, tekanan inilah yang membuat AL nekat melompat dari balkon apartemen.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polrestabes Medan, AKBP Adrian Risky Lubis, dalam konferensi pers pada Rabu (15/7/2026), mengungkapkan bahwa para pelaku mengakui modus operandi serupa telah mereka lakukan berkali-kali. Mereka kerap mengganti foto profil di aplikasi untuk menarik korban dan kemudian memeras dengan dalih biaya tambahan setelah layanan. "Foto itu untuk nilai jual, biasanya dia ganti-ganti," jelas AKBP Adrian, seperti dilansir internationalmedia.co.id.
Yang mengejutkan, salah satu pelaku, FR, sempat berkonsultasi dengan kecerdasan buatan (AI) bernama "AI Dola" setelah kejadian tragis tersebut. FR mencari informasi mengenai proses penyelidikan polisi, seperti: ‘Berapa hari kita akan dipanggil ke kantor polisi sebagai saksi dari waktu kejadian?’, ‘Kalau ada orang bunuh diri, kita di TKP, berapa lama kita dipanggil?’, ‘Kalau satu minggu setelah kejadian, kita tidak dipanggil oleh polisi, apakah kita sudah di posisi aman atau belum?’, dan ‘Gimana cara supaya tenang menghadapi nanti kalau kita dipanggil polisi?’. "Jadi, setelah kejadian itu, FR ini sempat berkonsultasi AI Dola," tambah AKBP Adrian.
Kasus ini menjadi peringatan keras akan bahaya sindikat pemerasan online yang beroperasi di balik layar aplikasi kencan, dengan korban yang tidak hanya kehilangan harta, namun juga nyawa. Pihak kepolisian kini terus mendalami kasus untuk menuntaskan penyelidikan.
