Internationalmedia.co.id – News, Kuala Kampar, Pelalawan – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Mohammad Jumhur Hidayat belum lama ini melakukan inspeksi terhadap proyek pembangunan sekat kanal di Pulau Mendol. Kehadiran pejabat pusat di wilayah Riau ini, yang bertujuan menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), disambut positif, namun juga memunculkan harapan akan keberlanjutan perawatan infrastruktur vital tersebut.
Erwan (49), seorang warga Desa Sungai Perak, tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya atas perhatian pemerintah pusat terhadap Kuala Kampar. "Kami senang tempat kami yang selama ini tertinggal akhirnya diperhatikan," ujarnya kepada internationalmedia.co.id pada Kamis lalu. Ia menyoroti bagaimana wilayahnya, yang merupakan salah satu kecamatan tertua di Riau, justru kerap terpinggirkan dibandingkan daerah lain seperti Pangkalan Kerinci.

Bagi Erwan, pembangunan sekat kanal adalah solusi yang sangat dinantikan. Ia berkisah, kebun miliknya telah berkali-kali hangus dilalap api akibat Karhutla. "Saya bikin kebun itu, empat kali nanamnya. Nanam tahun ini, hangus. Tahun depan nanam lagi. Karena semangat kuat, nanam terus, akhirnya dapat juga berbuah," kenangnya, menggambarkan perjuangan keras warga di tengah ancaman kebakaran.
Meski demikian, Erwan menekankan pentingnya perawatan pasca-pembangunan. Ia khawatir proyek ini hanya menjadi kegiatan seremonial belaka. "Bagus juga ada bangunan pintu air gini, tapi harus ada penjaganya, perawatan," tegasnya. Tanpa pengawasan dan pemeliharaan yang berkelanjutan, sekat kanal dinilai tidak akan berfungsi optimal dalam jangka panjang, dan hanya memberikan "angin segar" sesaat bagi masyarakat.
Dukungan masyarakat Kuala Kampar terhadap program pemerintah terbukti nyata. Erwan menceritakan, warga bergotong royong membantu pembangunan sekat kanal sehari sebelum kunjungan menteri. "Kami paling suka kalau ada bangunan, kami support. Kami satu masyarakat sini bantu semua, tak ada biaya, kami mengeluarkan," katanya. Sekat kanal ini krusial untuk mengatur tata air di lahan gambut, mencegah kekeringan saat kemarau dan genangan saat hujan, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas kebun kelapa dan karet warga.
Kekhawatiran serupa juga diungkapkan oleh Kasogi, warga lainnya. Ia menyuarakan ketakutan bahwa proyek akan terhenti begitu kunjungan pejabat berakhir. "Tolonglah ke depan, kalau Bapak Menteri tidak hadir, mungkin kegiatan ini akan stop. Inilah kenyataan yang ada," ujarnya. Kasogi juga mendesak agar pembangunan sekat kanal diperluas ke parit-parit lain yang masih rentan kekeringan.
Selain itu, Kasogi menyoroti kondisi Masyarakat Peduli Api (MPA) di wilayahnya yang masih minim dukungan. "Alat pemadam kebakaran kita tidak ada, Pak. Ketika ada kebakaran lahan, yang kita gunakan hanya tangki racun (semprotan hama)," keluhnya. Mengingat kondisi gambut Kuala Kampar yang sangat rentan terbakar – bahkan bisa kering drastis setelah sebulan tanpa hujan – dukungan anggaran, sarana, dan prasarana bagi MPA menjadi sangat mendesak.
Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat dalam kesempatan itu menjelaskan bahwa sekat kanal merupakan infrastruktur vital untuk menjaga tinggi muka air tanah di kawasan gambut. "Lahan gambut itu apabila dia tidak digenangi secara terus menerus pada saat yang sama terus disinari oleh matahari, maka dia berpotensi menjadi panas dan bisa terbakar," jelas Jumhur. Sekat kanal yang dibangun dengan lebar sekitar tiga meter dan konstruksi bertingkat dirancang untuk memastikan air meresap optimal ke dalam kubah gambut, sehingga potensi kebakaran dapat ditekan.
Dalam kunjungannya, Menteri Jumhur didampingi Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dan Bupati Pelalawan Zukri. Rombongan harus menempuh perjalanan menantang, menggunakan sepeda motor milik warga sejauh 4,2 kilometer dan dilanjutkan dengan berjalan kaki 200 meter di Pulau Mendol karena keterbatasan akses. Perjalanan ini menunjukkan komitmen pemerintah, yang kini diharapkan masyarakat dapat berlanjut pada perawatan dan dukungan berkelanjutan demi masa depan Kuala Kampar yang bebas Karhutla.
