Di tengah derap modernisasi yang tak terhindarkan di Pulau Obi, Halmahera Selatan (Halsel), sebuah desa bernama Soligi teguh memegang erat warisan leluhur mereka. Suara riuh rentak gendang dan alunan gong yang menggema di halaman kantor desa menjadi saksi bisu Pagelaran Kesenian Ngibi yang memukau ratusan pasang mata. Internationalmedia.co.id – News mencatat, momen berharga ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah deklarasi bahwa akar budaya tak akan lekang oleh waktu, bahkan berdekatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kabupaten Halsel pada 9 Juni.
Ngibi, sebuah tradisi turun-temurun yang dibawa oleh para leluhur dari tanah Buton, Sulawesi Tenggara, kini telah mengakar kuat di bumi Halsel. Menurut Imam La Puasa, tokoh adat Desa Soligi, setiap gerak dan tahapan dalam kesenian ini menyimpan segudang pesan moral, nilai-nilai kehidupan, serta jejak sejarah perjalanan masyarakat Buton yang diwariskan secara estafet dari generasi ke generasi.

"Ngibi jauh melampaui sekadar hiburan. Di dalamnya tersemat nasihat bijak, sejarah panjang, dan identitas sejati yang diamanahkan oleh leluhur kami. Oleh karena itu, menjaga tradisi ini adalah sebuah keharusan, agar anak cucu kita tidak pernah melupakan asal-usul mereka," tegas Imam La Puasa dalam keterangan tertulis yang diterima internationalmedia.co.id pada Kamis (11/6/2026).
Sebelum pagelaran tari dimulai, keheningan menyelimuti arena. Imam desa memimpin doa, menggarisbawahi eratnya jalinan Tari Ngibi dengan spiritualitas Islam yang dianut masyarakat Soligi. Kemudian, tokoh adat membuka gelanggang dengan hentakan pencak silat, seolah membuka jalan bagi generasi penerus. Arena kemudian diisi oleh Tari Cungka yang dibawakan penari perempuan, melambangkan siklus awal kehidupan manusia di dalam kandungan. Pesan ini berlanjut dengan Tari Ngibi, tarian berpasangan yang merepresentasikan rasa syukur atas ditiupkannya roh ke dalam raga. Dalam setiap gerak gemulai Ngibi, penari laki-laki pantang menyentuh penari perempuan, sebuah simbol penghormatan tertinggi bagi kaum hawa sebagai perawat kehidupan.
Jika di masa lampau Tari Ngibi menjadi wujud syukur pascapanen raya, kini kesenian tersebut telah bertransformasi, mewarnai berbagai perhelatan sosial, termasuk perayaan Iduladha. Di tengah pesatnya pertumbuhan kawasan dan dinamika perubahan sosial, masyarakat Soligi secara gamblang menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus memutus hubungan dengan identitas budaya. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan, saling menguatkan.
Usai perenungan filosofis melalui tarian, gelanggang kembali bergemuruh dengan semangat. Giliran anak-anak dari tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas unjuk gigi, beradu ketangkasan dalam pencak silat. Diiringi sorak-sorai ratusan warga, adu ketangkasan ini bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan simbol sportivitas dan semangat ksatria generasi muda Soligi. Bagi Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali, kemeriahan malam itu adalah manifestasi perjuangan gigih melawan abrasi budaya.
"Kegiatan yang didukung oleh Harita Nickel ini merupakan buah kerja sama erat antara pemerintah desa dan para tokoh adat," ujar Madaisi. "Mari kita kenali dan lestarikan identitas kita, untuk membina generasi muda agar terus menjaga dan mencintai budayanya."
Pagelaran ini memang tidak berdiri sendiri, melainkan terwujud berkat kolaborasi harmonis antara masyarakat dengan entitas industri setempat, Harita Nickel. Di tengah tumbuhnya kawasan industri, masyarakat Soligi menunjukkan bahwa perubahan tidak harus memutus hubungan dengan akar budaya. Kehadiran industri justru mengambil peran sebagai katalisator, memastikan kearifan lokal tetap bernafas di tengah laju modernisasi. Menegaskan komitmen tersebut, Community Relations Supervisor Harita Nickel, Wigit Yan Sukmawan, menyampaikan bahwa kehadiran perusahaan mereka bersandar pada penghormatan mendalam terhadap kearifan lokal.
"Bagi kami, budaya lokal adalah bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat yang wajib dijaga bersama," tutur Wigit. "Tari Ngibi bukan sekadar pertunjukan, melainkan warisan nilai dan sejarah masyarakat Soligi. Oleh karena itu, perusahaan ingin turut serta mendukung agar tradisi ini tetap hidup dan terus dikenal oleh generasi muda."
Di tengah perubahan yang terus bergerak di Halsel, ruang-ruang budaya seperti ini menjadi pengingat krusial bahwa pembangunan juga perlu berjalan berdampingan dengan upaya menjaga identitas masyarakat. Sebab, yang diwariskan kepada generasi muda bukan hanya pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga nilai, tradisi, dan akar budaya yang membentuk kehidupan sosial masyarakat pesisir. Malam semakin larut, namun gelanggang di Soligi tak kunjung sepi. Diiringi tabuhan gong, anak-anak dan remaja masih bergantian menari serta memainkan pencak silat di hadapan warga. Mereka bukan sekadar tampil dalam sebuah pagelaran, tetapi sedang belajar mengenali warisan budaya yang telah lama hidup di Halsel, khususnya di pesisir Obi. Di tangan generasi muda inilah, tradisi itu dijaga agar tetap hidup dan terus berdenyut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
