Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan mengejutkan mengenai kondisi internal Iran. Ia mengklaim negara itu sedang terpecah menjadi dua kubu yang saling berseteru, bahkan tidak jelas siapa pemimpinnya, di tengah penantian AS atas respons proposal perdamaian untuk mengakhiri konflik.
Melalui platform Truth Social, Trump menyoroti ketidakpastian kepemimpinan di Iran, menyatakan bahwa negara itu "sangat kesulitan menentukan siapa pemimpin mereka!" dan bahkan "mereka tidak tahu!" Pernyataan ini diunggah pada Kamis (23/4/2026). Trump menggambarkan adanya "pertikaian internal yang sungguh gila" antara faksi "Kelompok Garis Keras," yang menurutnya telah menelan kekalahan telak di medan perang, dan "Kelompok Moderat," yang ia sebut sama sekali tidak moderat namun entah mengapa "mendapatkan rasa hormat!"

Menanggapi situasi ini, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada Rabu (22/4), menyatakan bahwa pemerintah AS telah mengidentifikasi faksi-faksi di Iran yang memiliki kecenderungan untuk menyetujui kesepakatan damai. Ketika ditanya lebih lanjut tentang pemahaman AS mengenai para pengambil keputusan kunci di Teheran, Leavitt menegaskan bahwa Gedung Putih dan komunitas intelijen "tentu memiliki pemahaman yang baik."
Laporan dari CNN lebih lanjut mengungkap bahwa AS mencurigai adanya keretakan yang signifikan antara tim negosiasi Iran, yang dikepalai oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Perpecahan internal ini diduga menjadi salah satu faktor penghambat dalam proses pengambilan keputusan terkait proposal perdamaian AS.
Di hari yang sama, Trump juga mengklaim bahwa Amerika Serikat kini memiliki "kendali penuh atas Selat Hormuz." Ia menegaskan, "Tidak ada kapal yang dapat masuk atau keluar tanpa persetujuan Angkatan Laut Amerika Serikat." Menurutnya, selat strategis itu kini "tertutup rapat," dan akan tetap demikian "sampai Iran mampu mencapai KESEPAKATAN!!!" Klaim ini menggarisbawahi tekanan yang diberikan AS terhadap Iran di tengah kebuntuan diplomatik.
