Internationalmedia.co.id melaporkan, sebuah koalisi 28 negara, termasuk kekuatan besar seperti Jepang, Inggris, Prancis, dan Kanada, mendesak penghentian segera konflik di Gaza. Mereka mengecam keras tindakan Israel yang dinilai sebagai pembunuhan tak manusiawi terhadap warga sipil Palestina, khususnya insiden mengerikan di sekitar lokasi distribusi bantuan makanan. Lebih dari 800 warga sipil dilaporkan tewas, mayoritas di dekat lokasi Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF).
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Selasa (22/7/2025), negara-negara tersebut mengecam keras sistem distribusi bantuan yang diterapkan Israel, menyebutnya berbahaya dan merendahkan martabat manusia. Mereka menilai metode tersebut justru memicu ketidakstabilan dan memperparah penderitaan warga sipil Gaza yang telah mencapai titik nadir.

Pernyataan mengejutkan ini datang dari berbagai negara yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat Israel, bahkan termasuk empat dari lima anggota aliansi intelijen Five Eyes. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai dinamika politik internasional di tengah konflik yang terus berkecamuk.
Namun, Kementerian Luar Negeri Israel menolak pernyataan tersebut, menyebutnya tidak sesuai dengan fakta dan akan mengirimkan pesan yang salah kepada Hamas. Mereka justru menyalahkan Hamas atas penderitaan penduduk dan berlanjutnya konflik. Sentimen serupa diungkapkan oleh Duta Besar AS untuk Israel, yang menyebut pernyataan koalisi 28 negara tersebut menjijikkan dan tidak rasional.
Pernyataan ini memicu perdebatan sengit di kancah internasional. Sementara beberapa pihak berfokus pada pelanggaran HAM yang dilakukan Israel, pihak lain menekankan peran Hamas dalam konflik tersebut. Pernyataan bersama ini jelas akan semakin memperumit upaya penyelesaian konflik di Gaza dan menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan hubungan internasional di kawasan tersebut.
