Internationalmedia.co.id – Hubungan antara Venezuela dan Amerika Serikat (AS) semakin memanas, Presiden Nicolas Maduro secara terbuka memohon kepada AS untuk tidak memulai perang. Permohonan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Maduro, dalam pesannya yang disampaikan dalam bahasa Inggris, menyerukan, "No crazy war, please!" Pernyataan ini dilontarkannya setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan adanya operasi rahasia terhadap Venezuela, di tengah peningkatan aktivitas militer AS di Karibia dan Pasifik dengan dalih memerangi narkoba.

"Ya damai, ya damai selamanya, damai selamanya. No crazy war, please!" tegas Maduro dalam pertemuan dengan serikat pekerja yang mendukungnya. AS sendiri telah mengerahkan pesawat tempur siluman dan kapal Angkatan Laut, yang diklaim sebagai bagian dari upaya pemberantasan narkotika. Namun, bukti keterlibatan target operasi AS dalam penyelundupan narkoba masih belum dipublikasikan.
Serangan AS, yang dimulai sejak awal September, telah menimbulkan korban jiwa dan meningkatkan ketegangan regional. Maduro menuduh AS berupaya melakukan perubahan rezim di negaranya. Sementara itu, pemerintah Trinidad dan Tobago mengumumkan kedatangan kapal perang AS di ibu kota mereka untuk latihan gabungan dengan pasukan pertahanan.
Ketegangan semakin meningkat setelah Trump mengklaim telah mengizinkan operasi rahasia CIA terhadap Venezuela dan mempertimbangkan serangan darat terhadap kartel narkoba. Tuduhan bahwa Maduro memimpin kartel narkoba telah dibantah keras oleh pemimpin Venezuela tersebut.
Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino, menyatakan bahwa negaranya mengetahui keberadaan CIA di Venezuela dan meyakini bahwa setiap upaya operasi rahasia akan gagal.
AS Unjuk Kekuatan, Venezuela Siaga Rudal Rusia
AS dilaporkan mengerahkan pesawat pengebom B-1B di atas Laut Karibia, dekat pantai Venezuela, sebagai bentuk unjuk kekuatan. Meskipun Trump membantah laporan tersebut, data pelacakan penerbangan menunjukkan adanya pesawat pengebom AS yang terbang menuju pantai Venezuela sebelum berbalik arah.
Pengerahan militer AS di Karibia memicu kekhawatiran di Caracas bahwa tujuan akhir Washington adalah perubahan rezim. Trump sendiri menyatakan ketidakpuasannya terhadap Venezuela dan mengisyaratkan adanya "aksi darat" di negara tersebut.
Menghadapi ancaman tersebut, Maduro menyatakan bahwa Venezuela memiliki 5.000 rudal darat-ke-udara portabel buatan Rusia untuk melawan pasukan AS. Rudal jarak pendek Igla-S tersebut ditempatkan di posisi-posisi pertahanan udara penting untuk memastikan perdamaian. Aktivitas militer AS di perairan Karibia telah memicu kemarahan di sebagian besar Amerika Latin.
