Monday, 04 March 2024

Search

Monday, 04 March 2024

Search

Turki dan Suriah Kekurangan Lahan Pemakaman Untuk Kubur Korban Gempa

Ilustrasi

ANKARA(IM)- Lahan di pemakaman Nurdağı di Provinsi Gaziantep, Turki yang perbatasan dengan Suriah sudah penuh terisi. Tidak akan ada lagi ruang untuk menguburkan korban tewas akibat gempa dahsyat yang melanda Turki dan Suriah pada awal pekan ini.
Kuburan yang baru digali ditandai dengan potongan kain robek yang dikumpulkan dari pakaian korban untuk mengidentifikasi mereka. Puluhan jenazah bertumpuk di atas deretan truk pikap, dan menunggu untuk dikuburkan.
Setidaknya lima imam telah bergegas ke Nurdağı untuk melakukan prosesi pemakaman massal tanpa henti. Terkadang para imam memimpin prosesi pemakaman untuk 10 korban sekaligus.
Pejabat membawa pengiriman peti mati dari desa-desa tetangga untuk menyediakan tempat peristirahatan terakhir bagi para korban.
“Empat puluh persen orang yang tinggal di kota ini bisa hilang,” kata Sadik Gunes, seorang imam di Nurdagi, di laporkan The Guardian, Jumat (10/2).
Rumah Gunes berada di sebelah masjid yang runtuh. Karena tidak ada masjid, shalat jenazah secara massal di Nurdagi dan bagian selatan Turki lainnya dilakukan di luar ruangan.
“Saya sudah kehilangan hitungan berapa jenazah yang telah kami kubur sejak Senin. Kami memperluas pemakaman dan masih ada orang (yang terjebak) di bawah puing-puing. Kami menguburkan jenazah hingga larut malam dengan bantuan warga,” kata Gunes.
Sambil menunggu kedatangan dokter forensik dan jaksa penuntut, penduduk di beberapa kota di Turki telah menumpuk jenazah di stadion atau di tempat parkir. Hal ini untuk memberikan kesempatan kepada kerabat mengidentifikasi orang yang mereka cintai sebelum akta kematian dikeluarkan.
Di distrik Afrin di timur laut Suriah, sebuah pemakaman telah diperluas dengan situs pemakaman massal darurat. Di Kota Osmaniye, Turki selatan, sebuah kuburan kehabisan ruang. Sementara di luar Kahramanmaras, dekat episentrum gempa, sebuah kuburan darurat dipenuhi dengan begitu banyak jenazah, sehingga papan kayu dan balok beton yang dikumpulkan dari puing-puing harus berfungsi sebagai batu nisan.
Di seberang Suriah utara, para pengungsi yang tinggal di tenda penampungan di tengah salju mulai membakar apapun agar tubuh mereka tetap hangat. Sementara bantuan makanan dan kebutuhan pokok lainnya masih langka.
“Dunia telah melupakan kami. Kami punya cukup makanan untuk bertahan sebentar. Tapi kami hanya memiliki sedikit kayu yang kami bakar hanya beberapa jam sehari untuk bertahan agar tetap hangat. Entah bagaimana kita dibiarkan menghadapi situasi ini sendirian,” kata seorang korban selamat Mohammed Abu Hamza yang pengungsi bersama keluarganya.

Frans C. Gultom

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media