Internationalmedia.co.id – News – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini melontarkan klaim mengejutkan mengenai niat Iran terkait Selat Hormuz. Menurut Trump, Teheran sejatinya berkeinginan agar jalur perairan vital tersebut tetap terbuka, didorong oleh kondisi keuangan mereka yang kian memburuk. Ia bahkan menyebut Iran sedang berada di ambang kehancuran finansial.
Melalui platform media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa kerugian finansial Iran akibat penutupan selat tersebut sangat besar, mencapai angka fantastis US$ 500 juta setiap hari. "Iran tidak berkeinginan Selat Hormuz tertutup; mereka justru menginginkannya terbuka agar dapat mengalirkan pendapatan sebesar US$ 500 juta per hari," tulis Trump. Ia menambahkan, pernyataan Iran yang seolah ingin menutup selat itu hanyalah upaya "menyelamatkan muka" di tengah blokade penuh yang diterapkan AS.

Klaim ini muncul tak lama setelah Trump secara sepihak mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara AS dan Iran pada Selasa (21/4). Gencatan senjata yang semula dijadwalkan berakhir pada 22 April, setelah dua minggu berlaku sejak 7 April, kini diperpanjang tanpa batas waktu. Trump berulang kali menekankan bahwa mempertahankan blokade AS di jalur perairan strategis yang krusial bagi pasokan energi global adalah kunci mutlak untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran.
"Jika kita mencabut blokade tersebut, tidak akan pernah ada kesepakatan dengan Iran, kecuali kita menghancurkan seluruh negara mereka, termasuk para pemimpinnya!" tegas Trump, mengutip laporan yang diterimanya bahwa Iran ingin Selat Hormuz segera dibuka. Ia lebih lanjut menguraikan, krisis finansial di Iran begitu parah hingga militer dan kepolisian dilaporkan mengeluhkan tidak digaji. "Iran sedang kolaps secara finansial! Mereka menginginkan Selat Hormuz segera dibuka—Kekurangan uang! Kehilangan US$ 500 juta per hari. Militer dan polisi mengeluhkan karena tidak digaji. SOS!!!" seru Trump, menggambarkan situasi genting tersebut.
Perpanjangan gencatan senjata ini, menurut Trump, bertujuan untuk memberi ruang lebih luas bagi perundingan damai. Ia menyebut adanya permintaan dari mediator Pakistan dan menyoroti perlunya waktu bagi kepemimpinan Iran yang disebutnya "terpecah" untuk merumuskan proposal kesepakatan.
Namun, sikap Teheran tetap teguh. Mahdi Mohammadi, penasihat Ketua Parlemen Iran, menanggapi dingin perpanjangan gencatan senjata ini, menyatakan bahwa "Perpanjangan gencatan senjata Trump tidak berarti apa-apa." Mohammadi secara tegas mengkritik langkah Trump yang tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran meskipun gencatan senjata diperpanjang. Baginya, kebijakan semacam itu seharusnya ditanggapi dengan tindakan militer, bukan melalui jalur diplomasi.
