Washington D.C. – Sebuah perkembangan mengejutkan muncul dalam dinamika hubungan Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump, melalui platform Truth Social, mengumumkan penundaan serangan militer terhadap Iran dan perpanjangan gencatan senjata. Keputusan ini, seperti dilaporkan Internationalmedia.co.id – News, diambil menyusul permintaan langsung dari Pakistan, yang menyoroti perpecahan internal di tubuh pemerintahan Iran.
Dalam pernyataannya, Trump secara eksplisit menyebutkan bahwa penundaan ini didasari oleh kondisi pemerintahan Iran yang "sangat terpecah belah". Permintaan khusus datang dari Marsekal Lapangan Asim Munir dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan. Mereka meminta AS menangguhkan operasi militer hingga para pemimpin dan perwakilan Iran dapat mengajukan "proposal yang terpadu" sebagai dasar perundingan.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa militer AS tetap dalam kondisi siaga penuh. Ia menginstruksikan pasukannya untuk melanjutkan blokade dan mempertahankan kesiapan tempur. "Oleh karena itu, saya telah mengarahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam semua hal lainnya, tetap siap dan mampu, dan oleh karena itu akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan, dan diskusi diselesaikan, dengan satu atau lain cara," bunyi pernyataan yang dikutip internationalmedia.co.id.
Perpanjangan gencatan senjata ini, menurut Trump, akan berlaku sampai Iran berhasil menyusun dan mengajukan proposal resmi, serta menyelesaikan putaran kedua perundingan damai.
Sebelumnya, peran Pakistan sebagai mediator kunci telah menjadi sorotan. Islamabad telah berupaya memfasilitasi putaran kedua perundingan antara Washington dan Teheran. Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, melalui akun X-nya, sempat mengungkapkan bahwa pihaknya masih menanti konfirmasi resmi dari Iran terkait partisipasi delegasi mereka dalam "Perundingan Perdamaian Islamabad".
Tanggapan ini sangat krusial, mengingat gencatan senjata dua pekan yang disepakati sejak 8 April dijadwalkan berakhir pada Rabu malam waktu Washington. Keputusan Iran akan menjadi penentu kelanjutan proses diplomasi, terutama menjelang berakhirnya masa gencatan senjata tersebut.
Di sisi lain, Presiden Trump sebelumnya telah menyatakan keyakinannya akan posisi tawar AS yang sangat kuat menjelang putaran kedua pembicaraan. Kepada penyiar CNBC, ia menegaskan, "Kita akan mendapatkan kesepakatan yang hebat. Saya pikir mereka tidak punya pilihan… Kita berada dalam posisi negosiasi yang sangat, sangat kuat," seperti yang dilansir internationalmedia.co.id. Dengan perpanjangan gencatan senjata ini, bola kini berada di tangan Teheran untuk mengajukan proposal yang diharapkan dapat membuka jalan bagi resolusi damai.
