Washington DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini secara mengejutkan meragukan klaim Kremlin bahwa Ukraina melancarkan serangan drone terhadap salah satu kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin. Pernyataan terbaru Trump, yang dilaporkan Internationalmedia.co.id – News mengutip AFP pada Senin (5/1/2026), menandai pergeseran signifikan dari respons awalnya.
Dalam sesi tanya jawab dengan wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (4/1) waktu setempat, Trump dengan tegas menyatakan, "Saya tidak percaya serangan itu terjadi." Pernyataan ini kontras dengan kemarahan yang sempat ia ungkapkan sebelumnya, setelah diberitahu langsung oleh Putin mengenai insiden tersebut.

Sebelumnya, pada akhir Desember lalu, saat berbicara dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Trump mengaku "sangat marah" atas upaya Kyiv yang disebutnya menyerang kediaman Putin. Ia kala itu menekankan bahwa "ini adalah periode waktu yang sensitif" dan "bukan waktu yang tepat" untuk melakukan hal semacam itu. Namun, kini ia menggarisbawahi bahwa "tidak ada yang tahu pada saat itu" apakah tuduhan Rusia benar adanya.
Klaim Rusia, yang pertama kali muncul pada akhir Desember lalu, menuduh Kyiv mengerahkan "91 drone jarak jauh" dalam serangan yang terjadi antara Minggu (28/12) tengah malam hingga Senin (29/12) dini hari. Targetnya disebut-sebut adalah salah satu kediaman Putin di wilayah Novgorod. Kementerian Pertahanan Rusia bahkan merilis video yang diklaim menunjukkan drone yang ditembak jatuh, meski Kremlin bersikeras properti tersebut tidak mengalami kerusakan dan Putin sedang tidak berada di lokasi saat kejadian.
Tuduhan ini mencuat di tengah periode krusial upaya diplomatik yang semakin intensif untuk mengakhiri konflik yang telah berkecamuk hampir empat tahun. Pertemuan langsung antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Trump di Florida, AS, baru-baru ini juga menambah dinamika situasi. Para pejabat Rusia mengkritik Ukraina, menuding mereka tidak tulus dalam upaya diplomatiknya.
Sejak awal, Presiden Zelensky dengan tegas membantah tuduhan Rusia, menyebutnya sebagai "kebohongan" dan "rekayasa sepenuhnya" yang sengaja dirancang untuk melemahkan proses perundingan perdamaian yang diinisiasi AS. Sekutu-sekutu Eropa Kyiv juga kompak menolak validitas klaim Kremlin.
Meskipun mengakui "sesuatu" memang terjadi di dekat kediaman Putin, Trump kini menyatakan bahwa setelah meninjau bukti, para pejabat AS tidak lagi meyakini bahwa kediaman pemimpin Kremlin itu menjadi target serangan Ukraina. Pergeseran pandangan ini menggarisbawahi kompleksitas informasi di tengah ketegangan geopolitik yang memanas.
