internationalmedia.co.id – Kawasan hutan Gunung Arjuno-Welirang akhirnya bernapas lega setelah kobaran api yang melanda selama beberapa pekan terakhir resmi dinyatakan padam. Berdasarkan pantauan terbaru, tidak ada lagi titik api atau hotspot yang terdeteksi di wilayah tersebut, menandakan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan konservasi ini telah berhasil diatasi sepenuhnya.
Kabar baik ini dikonfirmasi oleh Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini, pada Senin (26/10/2026). Ia menyatakan bahwa melalui sistem pemantauan SiPongi yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan, seluruh titik api yang sebelumnya sempat muncul kini sudah nihil. Kondisi ini memberikan harapan baru bagi kelestarian ekosistem di kawasan tersebut yang sempat terancam hebat.

"Untuk di SiPongi sudah nihil semua. Begitu juga dengan titik-titik lain yang sebelumnya sempat tersisa, saat ini sudah padam total," ujar Agustiningtyas kepada awak media.
Proses pemadaman yang berlangsung cukup dramatis ini akhirnya mendapatkan bantuan alam berupa hujan yang mengguyur sebagian kawasan hutan dalam beberapa hari terakhir. Guyuran air hujan tersebut menjadi faktor kunci yang mampu meredam sisa-sisa bara api yang sebelumnya sangat sulit dijangkau oleh tim darat. Medan yang terjal dan curam di kawasan Arjuno-Welirang sebelumnya menjadi kendala utama bagi petugas dalam melakukan upaya pemadaman secara manual.
Meski situasi saat ini sudah terkendali, pihak berwenang tidak tinggal diam. Polisi kini tengah bergerak cepat untuk mengusut tuntas penyebab pasti di balik kebakaran yang terjadi sejak pertengahan Oktober 2026 tersebut. Koordinasi intensif telah dilakukan antara pihak UPT Tahura dengan jajaran Polda serta Polres setempat untuk melakukan investigasi mendalam.
"Terkait penyebab kebakaran kemarin, dari jajaran Polda dan jajaran Polres turut membantu untuk melakukan investigasinya. Kita belum tahu hasilnya seperti apa," tambah Agustiningtyas. Saat ini, aparat penegak hukum tengah mengumpulkan berbagai bukti di lapangan serta meminta keterangan dari sejumlah pihak guna memastikan apakah kebakaran ini murni faktor alam atau ada unsur kesengajaan.
Berdasarkan laporan sementara, dampak kerusakan paling parah terlihat pada ekosistem alang-alang dan semak belukar yang sangat mudah terbakar. Beruntung, sebagian besar pohon-pohon besar di kawasan tersebut masih mampu bertahan dari amukan api. Namun, pihak UPT Tahura Raden Soerjo menegaskan akan tetap melakukan pemantauan ketat terhadap kesehatan pohon-pohon yang selamat guna memastikan tidak ada dampak jangka panjang yang merusak ekosistem.
Perlu diingat bahwa karhutla di kawasan Tahura Raden Soerjo ini merupakan bencana yang cukup luas karena mencakup empat wilayah administratif sekaligus, yakni Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, Mojokerto, hingga Kota Batu. Luasnya cakupan api menuntut kerja keras luar biasa dari tim gabungan di lapangan untuk memutus rantai penyebaran api agar tidak semakin meluas ke area pemukiman atau hutan lindung lainnya.
