internationalmedia.co.id – Dunia maya tengah dihebohkan dengan beredarnya kabar burung yang menyeret nama tokoh intelektual dan diplomat senior Indonesia. Kedutaan Besar (Kedubes) Singapura di Jakarta akhirnya angkat bicara untuk meluruskan informasi yang simpang siur tersebut. Pihak Kedubes secara tegas membantah klaim yang menyebutkan adanya pertemuan antara peneliti ternama Saiful Mujani dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, di kediaman Duta Besar Singapura pada 18 Oktober 2026.
Melalui pernyataan resminya, Kedubes Singapura menegaskan bahwa narasi yang beredar di media sosial tersebut adalah informasi palsu atau disinformasi. Pihak kedutaan menyatakan bahwa mereka telah memantau unggahan-unggahan yang menyebarkan klaim tidak benar tersebut. Sebagai langkah tindak lanjut, Kedubes Singapura berencana untuk berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia guna menangani penyebaran berita bohong tersebut agar tidak semakin liar di masyarakat.

Menanggapi tudingan tersebut, Dino Patti Djalal memberikan klarifikasi yang sangat lugas. Ia menegaskan bahwa kabar mengenai kunjungannya ke kediaman Dubes Singapura adalah 100 persen fiktif dan sepenuhnya merupakan rekayasa. Dino mengungkapkan bahwa pada tanggal yang disebutkan dalam isu tersebut, ia justru sedang berada di Perth, Australia, untuk menjalankan agenda profesional.
Selama tiga hari di Australia, Dino terlibat dalam diskusi mengenai perubahan iklim yang diselenggarakan oleh organisasi Global Citizen, di mana ia menjabat sebagai anggota dewan kawasan Oseania. Selain itu, ia juga bertemu dengan Presiden Timor Leste, Jose Ramos-Horta. Dino menekankan bahwa ia baru kembali ke tanah air pada Selasa malam dan sama sekali tidak memiliki agenda bertemu dengan Saiful Mujani maupun mengunjungi kediaman diplomat Singapura tersebut.
Dino menduga bahwa penyebaran berita palsu ini merupakan upaya terencana untuk membangun persepsi negatif terhadap dirinya. Ia merasa ada pihak yang ingin menciptakan kesan bahwa dirinya tidak memiliki jiwa nasionalisme yang kuat karena dianggap memiliki kedekatan khusus dengan Singapura. Untuk mematahkan tuduhan tersebut, Dino mengingatkan kembali rekam jejak pengabdiannya selama 28 tahun kepada negara serta berbagai penghargaan kehormatan yang telah ia terima.
Lebih lanjut, Dino menyoroti pola penyebaran informasi palsu yang diduga dilakukan secara terkoordinasi oleh akun-akun tertentu. Ia menilai praktik ini sangat berbahaya karena dapat menjadi bentuk intimidasi terhadap kebebasan berpendapat dan mengaburkan fakta di ruang publik. Dino berencana melaporkan fenomena ini kepada Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, agar pemerintah dapat mengambil langkah tegas dalam melindungi ruang digital dari serangan disinformasi yang bertujuan menjatuhkan reputasi tokoh publik.
