Internationalmedia.co.id Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan kekecewaannya terkait upayanya untuk mengakhiri konflik di Ukraina melalui pembicaraan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Trump mengeluhkan bahwa meskipun percakapan berjalan lancar, tidak ada tindak lanjut yang konkret dari pihak Rusia.
"Setiap kali saya berbicara dengan Vladimir, percakapan saya lancar, tapi setelah itu tidak ada kelanjutannya," ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (22/10). Pernyataan ini muncul bersamaan dengan pengumuman sanksi baru terhadap dua perusahaan minyak raksasa Rusia terkait dengan perang di Ukraina.

Trump sebelumnya menunda penerapan sanksi selama berbulan-bulan, namun kesabarannya menipis setelah rencana pertemuan dengan Putin di Budapest gagal terwujud. Sanksi yang dijatuhkan meliputi pembekuan aset Rosneft dan Lukoil di Amerika Serikat, serta larangan bagi perusahaan AS untuk berbisnis dengan kedua perusahaan tersebut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa sanksi ini merupakan salah satu yang terbesar yang pernah diterapkan terhadap Federasi Rusia, sebagai respons atas penolakan Putin untuk mengakhiri perang di Ukraina.
Secara terpisah, Uni Eropa juga menyetujui langkah-langkah baru untuk menekan pendapatan minyak dan gas Rusia selama perang. Paket sanksi ke-19 ini bertujuan untuk terus memberikan tekanan kepada Rusia di tengah upaya perdamaian yang diinisiasi oleh Trump dan eskalasi serangan Rusia.
Sanksi ini diumumkan beberapa jam setelah serangan Rusia di Ukraina yang menewaskan tujuh orang, termasuk dua anak-anak, dan menghancurkan sebuah taman kanak-kanak.
Meskipun demikian, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap terbuka untuk berdialog dengan Rusia. "Kami masih ingin bertemu dengan Rusia," kata Rubio. "Kami akan selalu tertarik untuk terlibat jika ada peluang untuk mencapai perdamaian."
