Washington DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan prediksi ambisius terkait pemulihan infrastruktur energi Venezuela. Menurutnya, negara tersebut dapat bangkit kembali dan beroperasi penuh hanya dalam hitungan bulan, menyusul operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, pernyataan ini muncul dalam wawancara dengan NBC News dan CNN pada Selasa (6/1/2026), di mana Trump membahas keterlibatan jangka panjang Washington di Caracas.
Dalam wawancara tersebut, Trump merinci bahwa perusahaan-perusahaan minyak akan membutuhkan waktu kurang dari 18 bulan untuk merekonstruksi sektor energi vital Venezuela. "Saya pikir kita bisa melakukannya dalam waktu kurang dari itu, tetapi akan membutuhkan banyak uang," ujar Trump kepada NBC News pada Senin (5/1). Ia menambahkan bahwa "sejumlah besar uang harus dikeluarkan, dan perusahaan-perusahaan minyak akan mengeluarkannya, dan kemudian mereka akan mendapatkan penggantian dari kita atau melalui pendapatan."

Meskipun Trump menunjukkan antusiasme atas prospek perusahaan minyak AS mendapatkan akses ke cadangan minyak Venezuela yang melimpah, sumber-sumber industri yang dihubungi CNN menyatakan keraguan. Para eksekutif minyak AS kemungkinan besar tidak akan terburu-buru terjun ke dalam situasi yang masih sangat tidak pasti di lapangan. Industri minyak Venezuela saat ini berada dalam kondisi kacau balau, ditambah lagi dengan sejarah Caracas yang kerap menyita aset-aset minyak milik AS.
Lebih lanjut, Trump juga menegaskan bahwa Venezuela tidak akan menggelar pemilihan umum baru dalam 30 hari ke depan. Menurutnya, Amerika Serikat harus terlebih dahulu "memperbaiki" negara tersebut. "Kita harus memperbaiki negara ini terlebih dahulu. Anda tidak bisa menggelar pemilu. Tidak mungkin rakyat bisa menggunakan hak suaranya," tegas Trump. Ia menambahkan, "Itu akan membutuhkan waktu. Kita harus — kita harus memulihkan kesehatan negara ini."
Menanggapi pertanyaan tentang status konflik, Trump bersikeras menyatakan bahwa AS tidak sedang berperang dengan Venezuela. "Tidak, kita tidak (berperang dengan Venezuela)," tegasnya. Ia mengalihkan fokus, menjelaskan bahwa AS "berperang melawan orang-orang yang menjual narkoba. Kita berperang melawan orang-orang yang mengosongkan penjara mereka ke negara kita, dan mengosongkan para pecandu narkoba mereka, dan mengosongkan rumah sakit jiwa mereka ke negara kita."
Untuk mengawasi keterlibatan AS di Venezuela, Trump menyebutkan sekelompok pejabat tinggi, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller, dan Wakil Presiden JD Vance. "Ini adalah kelompok yang terdiri atas semua orang. Mereka memiliki semua keahlian, keahlian yang berbeda-beda," sebutnya. Namun, ketika ditanya siapa yang paling bertanggung jawab, Trump hanya memiliki satu kata: "Saya."
