Berita mengejutkan datang dari Jalur Gaza. Internationalmedia.co.id melaporkan, lima jurnalis Al Jazeera tewas dalam serangan udara Israel di dekat Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza City. Insiden memilukan ini terjadi Minggu (10/8), dan mengguncang dunia pers internasional.
Al Jazeera menyebut serangan tersebut sebagai pembunuhan yang disengaja, menyatakan dua koresponden mereka, Anas al-Sharif dan Mohammed Qreqeh, bersama tiga kamerawan, Ibrahim Zaher, Mohammed Noufal, dan Moamen Aliwa, menjadi korban. Mereka berada di tenda pers saat serangan terjadi.

Pihak militer Israel, IDF, mengakui serangan tersebut, namun mengklaim Anas al-Sharif adalah pemimpin sel Hamas yang menyamar sebagai jurnalis. IDF menyatakan al-Sharif bertanggung jawab atas serangan roket ke Israel, menunjukkan bukti intelijen sebagai dasar klaim mereka. Namun, IDF bungkam soal tewasnya empat jurnalis lainnya.
Laporan Al Jazeera menyebutkan total tujuh orang tewas dalam serangan itu. Mohamed Moawad, redaktur pelaksana Al Jazeera, mengatakan kepada BBC bahwa al-Sharif adalah jurnalis terakreditasi yang menjadi suara penting bagi dunia untuk mengetahui situasi di Gaza, mengingat pembatasan akses bagi jurnalis internasional selama konflik. Moawad menyoroti upaya Israel membungkam laporan dari dalam Gaza. Serangan ini, menurutnya, bukti nyata dari upaya pembungkaman tersebut. Para jurnalis menjadi sasaran di tenda mereka, bukan di garis depan. Kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keselamatan jurnalis yang meliput konflik bersenjata.
