Berita mengejutkan datang dari Jalur Gaza. Internationalmedia.co.id melaporkan, sedikitnya 10 warga sipil Palestina tewas ditembak tentara Israel saat berupaya mendapatkan bantuan kemanusiaan. Peristiwa memilukan ini terjadi di tengah perang yang telah menciptakan krisis kemanusiaan parah di wilayah tersebut.
Insiden pertama terjadi di dekat pusat bantuan Amerika Serikat di area Al-Shakoush, sebelah barat laut Rafah. Juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, menyatakan sembilan orang tewas akibat tembakan Israel. Sementara itu, satu korban jiwa lainnya dilaporkan tewas dan delapan lainnya luka-luka dalam insiden terpisah di dekat titik distribusi bantuan dekat koridor Netzarim, selatan Gaza City. Kedua insiden tersebut terjadi pada Jumat (18/7).

Ironisnya, kematian ini terjadi di tengah upaya penyediaan bantuan kemanusiaan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), yang didukung AS dan Israel. GHF sendiri telah mengakui sedikitnya 20 orang tewas dalam insiden desak-desakan di titik distribusi bantuan mereka pada Rabu (16/7). Laporan PBB bahkan mencatat angka yang lebih mengerikan: sedikitnya 875 orang tewas saat berupaya mendapatkan makanan sejak akhir Mei, termasuk 674 orang di sekitar lokasi GHF.
Pihak militer Israel, saat dikonfirmasi, menyatakan "tidak mengetahui" insiden di dekat Rafah. Namun, pembatasan media dan kesulitan akses di Gaza membuat verifikasi independen atas jumlah korban dan detail kejadian menjadi sulit. Tragedi ini semakin mempertegas situasi kemanusiaan yang memprihatinkan di Gaza, di mana warga sipil menjadi korban dalam perang yang tak kunjung usai. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas dan keamanan distribusi bantuan kemanusiaan di tengah konflik bersenjata.