Internationalmedia.co.id melaporkan tragedi kemanusiaan yang pilu dari Jalur Gaza. Hampir 800 warga Palestina tewas dalam enam minggu terakhir saat berupaya mendapatkan bantuan makanan, menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Angka tersebut bertambah setelah sepuluh warga Palestina ditembak mati pada Jumat (11/7) waktu setempat saat mengantre di titik distribusi bantuan.
Insiden memilukan ini terjadi setelah Israel melonggarkan blokade bantuan pada akhir Mei. Namun, alih-alih meringankan penderitaan, muncul Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), sebuah organisasi baru yang didukung AS dan Israel, yang menggantikan jaringan bantuan PBB. PBB sendiri menolak bekerja sama dengan GHF karena khawatir lembaga tersebut dimanfaatkan untuk tujuan militer Israel.

Menurut PBB, 615 dari hampir 800 korban tewas berada di sekitar lokasi distribusi bantuan GHF. Juru bicara kantor hak asasi manusia PBB, Ravina Shamdasani, mengecam situasi tersebut. "Ketika orang-orang mengantre untuk mendapatkan makanan dan obat-obatan, dan harus memilih antara ditembak atau diberi makan, ini sungguh tidak dapat diterima," ujarnya kepada wartawan di Jenewa.
internationalmedia.co.id kesulitan memverifikasi secara independen jumlah korban dan detail kejadian karena pembatasan media dan akses yang sulit di Gaza. Tragedi ini terjadi di tengah perundingan tidak langsung antara Israel dan Hamas di Qatar untuk mencapai gencatan senjata sementara. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berharap kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari dapat tercapai dalam beberapa hari mendatang, sebagai langkah awal menuju penghentian perang permanen. Namun, bayang-bayang ratusan nyawa yang melayang demi sesuap makanan menjadi catatan kelam yang sulit dilupakan.