Internationalmedia.co.id – News – Konflik di Timur Tengah kembali memanas dengan laporan mengejutkan mengenai aksi penjarahan yang dilakukan oleh pasukan Israel (IDF) di wilayah Lebanon selatan. Surat kabar Israel Haaretz, yang dikenal berhaluan kiri, mengungkap bahwa properti sipil warga Lebanon menjadi sasaran penjarahan besar-besaran, memicu kemarahan di kalangan pimpinan militer Israel.
Kesaksian dari personel dan komandan IDF di lapangan, serta rekaman video yang beredar di media sosial, menjadi bukti kuat atas insiden ini. Beberapa video menunjukkan tentara Israel saling merekam sambil bercanda saat merusak properti di dalam rumah-rumah warga yang ditinggalkan. Gambar lain memperlihatkan seorang tentara menggunakan palu godam untuk menghancurkan patung di Lebanon selatan, menambah daftar panjang insiden yang memicu kecaman.

Peringatan Keras dari Pimpinan IDF
Menanggapi hal ini, Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, mengeluarkan peringatan keras kepada pasukannya. "Fenomena penjarahan, jika memang ada, sangat memalukan dan berisiko mencoreng nama IDF secara keseluruhan. Jika insiden seperti itu terjadi, kami akan menyelidikinya," tegas Zamir, seperti dilansir kantor berita AFP pada Selasa.
Militer Israel pekan lalu juga telah menjatuhkan hukuman penahanan militer selama 30 hari dan pencabutan tugas tempur kepada dua tentara yang terlibat dalam insiden pengrusakan patung Yesus. Zamir juga menekankan larangan penggunaan media sosial sebagai alat untuk menyebarkan pesan kontroversial atau promosi diri, menyebutnya sebagai "garis merah yang tidak boleh dilanggar." Ia mengancam tindakan disipliner bagi para pelanggar, memperingatkan bahwa "normalisasi perilaku seperti itu bisa sama berbahayanya dengan ancaman operasional."
Dalam pernyataan terpisah kepada AFP, militer Israel menegaskan bahwa mereka memandang "segala kerusakan terhadap properti sipil, serta tindakan penjarahan, dengan sangat serius dan melarang keras perilaku tersebut." Mereka berjanji akan melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap tuduhan semacam itu dan, jika terbukti, akan mengambil tindakan disipliner serta pidana, termasuk penuntutan.
Israel Ancam Lebanon dengan ‘Api Membakar Seluruh Negeri’
Di tengah skandal penjarahan ini, ketegangan semakin meningkat dengan ancaman keras dari Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, kepada Lebanon. Katz mengancam "api yang akan membakar seluruh negeri" jika gencatan senjata terus diwarnai pelanggaran oleh Israel dan kelompok Hizbullah. Ia bahkan menuding pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, sedang "bermain api" yang akan membakar Hizbullah dan seluruh Lebanon.
Ancaman ini, seperti dilansir Anadolu Agency dan Middle East Monitor pada Selasa, dilontarkan dua hari setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan eskalasi militer terhadap Beirut, ibu kota Lebanon. Katz mengklaim pemerintah Lebanon "terus berlindung" di bawah sayap Hizbullah dan memperingatkan bahwa "api akan berkobar dan melahap pohon-pohon cedar Lebanon."
Lebih lanjut, Katz menuduh Presiden Lebanon Joseph Aoun "mempertaruhkan masa depan Lebanon." Ia menegaskan bahwa Israel tidak akan menerima situasi di mana gencatan senjata di Lebanon berdampingan dengan serangan berkelanjutan oleh Hizbullah terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan dan wilayah Israel bagian utara. Menhan Israel itu mengatakan bahwa dirinya dan Netanyahu telah menginstruksikan pasukan Israel untuk "merespons dengan tembakan dahsyat terhadap Hizbullah jika terjadi kerusakan, ancaman, atau pelanggaran kedaulatan Israel."
Sementara itu, Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan pada Senin pagi bahwa gencatan senjata antara Lebanon dan Israel merupakan "langkah pertama dan penting" untuk negosiasi selanjutnya dengan Tel Aviv. Posisi ini telah disampaikan kepada Amerika Serikat yang menengahi negosiasi Beirut dan Tel Aviv. Di sisi lain, Jembatan Qasmiyeh di Lebanon selatan, meskipun mengalami kerusakan akibat serangan, kini menjadi jalur utama bagi warga yang kembali ke kampung halaman mereka setelah gencatan senjata 10 hari diberlakukan, memberikan harapan baru di tengah gejolak yang tak kunjung usai.
