Internationalmedia.co.id – Kabar duka terus menghantui Sri Lanka. Bencana banjir dan tanah longsor akibat Siklon Ditwah telah merenggut nyawa sedikitnya 465 orang. Harapan untuk menemukan 366 orang yang hilang pun semakin menipis. Pemerintah Sri Lanka kini membutuhkan dana fantastis, sekitar 7 miliar dolar AS, untuk membangun kembali infrastruktur yang hancur.
Banjir yang sempat melumpuhkan ibu kota Kolombo perlahan mulai surut. Namun, dampak kerusakan yang ditimbulkan sangat dahsyat. Lebih dari 1,5 juta warga terdampak, dengan 200.000 orang terpaksa mengungsi di tempat penampungan yang disediakan pemerintah.

Akses ke wilayah-wilayah terpencil di perbukitan masih menjadi tantangan. Pihak berwenang terus berupaya membersihkan jalan dan memulihkan jaringan komunikasi yang terputus. Komisioner Jenderal Layanan Esensial Sri Lanka, Prabath Chandrakeerthi, mengungkapkan bahwa perkiraan awal dana yang dibutuhkan untuk rekonstruksi mencapai 6 hingga 7 miliar dolar AS.
Pemerintah memberikan bantuan awal sebesar 25.000 Rupee Sri Lanka (sekitar Rp 1,3 juta) untuk setiap keluarga untuk membersihkan rumah mereka. Bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal, bantuan hingga 2,5 juta Rupee Sri Lanka (sekitar Rp 134,9 juta) akan diberikan.
Presiden Anura Kumara Dissanayake menekankan pentingnya bantuan internasional untuk membiayai pemulihan pascabencana. Sri Lanka masih berjuang memulihkan diri dari krisis ekonomi terburuk yang melanda tiga tahun lalu. Dissanayake telah menetapkan keadaan darurat dan berjanji untuk melakukan pembangunan kembali dengan dukungan dari dunia internasional. "Kita baru saja keluar dari krisis ekonomi ketika kita dilanda bencana ini, yang merupakan tantangan terbesar yang dihadapi oleh pemerintahan mana pun," ujarnya.
