Internationalmedia.co.id – News – Sebuah insiden tragis mengguncang Karangasem, Bali, ketika seorang sopir truk bernama GS (21) harus berjuang melawan maut setelah dibakar hidup-hidup oleh bosnya sendiri, CP (37). Peristiwa mengerikan ini terjadi di rumah korban di Desa Muncan, Kecamatan Selat, menyebabkan GS menderita luka bakar serius hingga 68% di sekujur tubuhnya.
Kini, GS menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Ngoerah Denpasar. Ia tiba di rumah sakit rujukan utama Bali tersebut pada Jumat (18/9) malam, sekitar pukul 19.00 Wita, setelah sebelumnya mendapatkan penanganan awal di Puskesmas Rendang. Kepala Intensive Care Unit (ICU) Burns Unit RSUP Prof Ngoerah, I Putu Kurniyanta, menjelaskan kepada internationalmedia.co.id bahwa luka bakar yang dialami GS sangat luas, mencapai 68% dari total permukaan tubuh. Meskipun saat tiba korban masih sadar dan mampu berkomunikasi, luka bakar terparah teridentifikasi di area dada depan yang melingkar hingga ke punggung. Dokter spesialis bedah plastik, Agus Roy Rusly Hariantana Hamid, menambahkan bahwa pakaian korban bahkan masih menempel pada kulitnya, mengindikasikan kedalaman luka bakar yang mencapai derajat 2B hingga 3. Namun, paman korban, I Nengah Sridana, mengungkapkan bahwa kondisi GS saat ini belum sadar dan masih dirawat di ruang isolasi intensif luka bakar.

Di tengah perjuangan medis GS untuk bertahan hidup, keluarga dihadapkan pada beban finansial yang amat berat. I Nengah Sridana mengungkapkan bahwa biaya pengobatan telah mencapai angka fantastis Rp 63 juta, dengan biaya penanganan di hari pertama saja sudah menelan Rp 19 juta. Keluarga GS, yang orang tuanya bekerja sebagai petani dan ibunya berjualan makanan ringan, mengaku tidak memiliki kemampuan finansial untuk menanggung seluruh biaya tersebut. Ironisnya, selama ini GS lah yang menjadi tulang punggung keluarga dengan pekerjaannya sebagai sopir truk.
Harapan sempat muncul ketika keluarga pelaku menyatakan kesediaan untuk bertanggung jawab atas biaya pengobatan, dengan syarat penangguhan penahanan diberikan. Namun, janji tersebut pupus setelah biaya medis awal disampaikan, pihak keluarga pelaku justru menyatakan tidak sanggup membayar. Situasi ini semakin memperparah penderitaan keluarga GS yang kini harus berjuang sendiri menghadapi cobaan berat ini.
