Dunia politik Jepang kembali diguncang skandal serius. Mantan Gubernur Prefektur Fukui, Tatsuji Sugimoto, 63 tahun, kini menghadapi tuduhan pelecehan seksual yang mengejutkan, melibatkan pengiriman lebih dari seribu pesan teks tak senonoh kepada stafnya saat masih menjabat. Demikian laporan yang dihimpun Internationalmedia.co.id – News.
Sugimoto sendiri telah mengundurkan diri dari jabatannya bulan lalu, menyusul rentetan tuduhan yang muncul melalui sistem whistleblower di Jepang. Tuduhan-tuduhan ini mengindikasikan pola pelecehan seksual yang berulang, memicu penyelidikan mendalam.

Menurut laporan investigasi komprehensif yang diakses internationalmedia.co.id, penyelidikan melibatkan survei email terhadap sekitar 6.000 pejabat dan wawancara tatap muka dengan 14 di antaranya. Hasilnya mencengangkan: "jumlah pesan teks yang menguatkan pelecehan seksual mencapai lebih dari 1.000 pesan teks." Beberapa di antaranya berbunyi vulgar seperti "Saya tidak akan mengatakan apa pun tentang hubungan fisik" dan pertanyaan provokatif "Apakah Anda menyukai hal-hal seksual?"
Tak hanya pesan teks, laporan investigasi juga mengungkap beberapa kasus dugaan kontak fisik, termasuk sentuhan pada paha atau bokong, menambah bobot serius pada tuduhan yang ada.
Meski demikian, Sugimoto melalui kuasa hukumnya, bersikeras membantah semua tuduhan tersebut. Namun, laporan investigasi tidak mengesampingkan bahwa perilakunya, yang disebut "meraba", dapat dikategorikan sebagai tindak pidana perbuatan tidak senonoh tanpa persetujuan.
Lebih lanjut, laporan itu menyoroti bahwa bahkan setelah Sugimoto menyampaikan permintaan maaf kepada para korban, ia dalam beberapa kasus kembali mengirim pesan, yang menurut laporan, "juga dapat merupakan tindakan ilegal" yang melanggar undang-undang anti-penguntitan. Dengan mempertimbangkan semua fakta, termasuk penyesalan dan pengunduran dirinya, laporan tersebut menyimpulkan bahwa Sugimoto "memikul tanggung jawab yang besar" atas serangkaian insiden ini.
