Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam setelah serangan Israel di Doha, Qatar. Internationalmedia.co.id melaporkan, aksi militer Israel ini menuai kecaman keras dari sejumlah negara adidaya, termasuk Inggris dan Prancis. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan serangan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan Qatar dan berpotensi memicu eskalasi konflik yang lebih luas. Starmer mendesak gencatan senjata segera dan pembebasan sandera dari kedua belah pihak, seraya menekankan pentingnya bantuan kemanusiaan besar-besaran untuk Gaza. Ia menyatakan, "Prioritasnya adalah gencatan senjata segera, pembebasan sandera, dan pengiriman bantuan besar-besaran ke Gaza."
Sentimen serupa diungkapkan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Ia menyebut serangan Israel ke Qatar sebagai tindakan yang tidak dapat diterima, terlepas dari alasan yang diajukan. Macron menegaskan solidaritasnya dengan Qatar dan Emir Sheikh Tamim Al Thani, serta menyerukan agar konflik antara Hamas dan Israel tidak meluas ke wilayah lain. "Tidak dapat diterima, apa pun alasannya," tegas Macron.

Sementara itu, pihak militer Israel mengklaim serangan tersebut sebagai operasi tepat sasaran yang menargetkan para pemimpin senior Hamas yang berada di Doha. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa operasi ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab dan inisiatif Israel. Namun, pernyataan ini tak mampu meredam kecaman internasional yang semakin menguat. Peristiwa ini menambah kompleksitas situasi di Timur Tengah yang sudah rawan konflik. Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau.
