Internationalmedia.co.id – News – Ketegangan di Semenanjung Korea kembali memuncak setelah Korea Utara (Korut) dilaporkan meluncurkan rudal balistik tak dikenal ke arah perairan lepas pantai timurnya. Militer Korea Selatan (Korsel) mengonfirmasi insiden ini, menyebut proyektil tersebut ditembakkan menuju Laut Jepang, yang juga dikenal sebagai Laut Timur, pada Minggu (4/1/2025).
Kementerian Pertahanan Jepang juga tidak tinggal diam. Mereka segera mendeteksi adanya kemungkinan rudal balistik yang diluncurkan, dengan perkiraan mendarat di lokasi yang belum ditentukan sekitar pukul 08.08 waktu setempat.

Peluncuran ini bukan yang pertama kali dilakukan Pyongyang. Uji coba rudal balistik terakhir Korut tercatat pada bulan November, menyusul persetujuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap rencana Korea Selatan untuk mengembangkan kapal selam bertenaga nuklir.
Dalam beberapa tahun terakhir, Korea Utara secara signifikan meningkatkan frekuensi uji coba rudalnya. Para analis berpendapat bahwa langkah agresif ini memiliki beberapa tujuan utama: meningkatkan kemampuan serangan presisi, menantang dominasi AS dan Korea Selatan di kawasan, serta menguji coba senjata-senjata baru sebelum berpotensi mengekspornya ke Rusia.
Aksi ini juga terjadi menjelang kongres penting partai berkuasa di Pyongyang, yang dijadwalkan dalam beberapa minggu mendatang dan merupakan yang pertama dalam lima tahun terakhir. Kebijakan ekonomi, serta perencanaan pertahanan dan militer, diperkirakan akan menjadi agenda utama dalam pertemuan tersebut.
Menjelang kongres tersebut, Pemimpin Kim Jong Un telah mengeluarkan perintah tegas untuk memperluas dan memodernisasi produksi rudal negara, sekaligus membangun lebih banyak pabrik guna memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Pada Minggu (28/12/2025), media pemerintah melaporkan bahwa Kim Jong Un secara langsung mengunjungi fasilitas yang terlibat dalam pembuatan senjata berpemandu taktis. Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) yang dikelola pemerintah mengutip perintah Kim untuk memperluas kapasitas produksi saat ini hingga 250%.
