Pengakuan mengejutkan datang dari Rusia. Internationalmedia.co.id melansir pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, yang diungkap melalui wawancara dengan televisi pemerintah Rossiya-1 dan dikutip kantor berita RIA. Ryabkov secara terang-terangan mengakui bahwa Rusia terus mengembangkan rudal nuklir selama masa moratorium pengerahan senjata tersebut.
Lebih mengejutkan lagi, Ryabkov menyatakan Rusia kini telah memiliki stok senjata nuklir yang signifikan. Ia menekankan bahwa moratorium yang diumumkan sebelumnya hanya berlaku untuk pengerahan, bukan untuk riset dan pengembangan. "Waktu ini digunakan untuk mengembangkan sistem yang tepat dan membangun persenjataan yang cukup substansial," tegasnya.

Pengakuan ini muncul setelah Rusia mencabut moratorium sepihak untuk pengerahan rudal jarak menengah awal bulan ini. Moskow berdalih pencabutan moratorium tersebut sebagai respons atas langkah Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Langkah ini, menurut laporan Associated Press, berpotensi memicu perlombaan senjata baru dan meningkatkan ketegangan antara Moskow dan Washington, terutama di tengah konflik Ukraina.
Kementerian Luar Negeri Rusia sebelumnya menyatakan bahwa pengembangan senjata jarak menengah oleh AS dan sekutunya di Eropa dan wilayah lain menciptakan "potensi rudal yang mengganggu stabilitas" dan mengancam keamanan Rusia. Mereka juga menuding tindakan tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan antara kekuatan nuklir.
Perjanjian mengenai rudal jarak pendek dan menengah berbasis darat antara Uni Soviet dan AS pada 1987, yang sempat menjadi simbol meredanya ketegangan, kini telah sirna. AS menarik diri dari perjanjian tersebut pada 2019 di masa pemerintahan Donald Trump, menuduh Rusia melanggar perjanjian tersebut—tuduhan yang dibantah keras oleh Moskow. Kini, pengakuan Rusia ini membuka babak baru dalam ketegangan geopolitik global.
