Internationalmedia.co.id memberitakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menggelar rapat tertutup selama tiga jam dengan para pejabat keamanan senior. Pertemuan yang berlangsung alot ini membahas strategi baru Israel dalam konflik Gaza, dengan indikasi kuat adanya rencana ambisius untuk menguasai penuh wilayah tersebut.
Informasi yang didapat internationalmedia.co.id dari Reuters menyebutkan, Kepala Staf Militer Eyal Zamir memaparkan berbagai opsi untuk melanjutkan operasi militer di Gaza. Menteri Pertahanan Israel Katz dan Menteri Urusan Strategis Ron Dermer, orang kepercayaan Netanyahu, juga turut hadir dalam rapat krusial ini. Keputusan final strategi tersebut rencananya akan dibawa ke kabinet pada Kamis pekan ini.

Laporan dari media Israel, Channel 12, mengungkap kemungkinan besar Netanyahu akan merebut kendali penuh atas Gaza. Langkah ini akan membatalkan keputusan tahun 2005 untuk menarik warga dan tentara Israel dari wilayah tersebut, meski tetap mempertahankan kontrol atas perbatasan, wilayah udara, dan utilitasnya. Partai-partai sayap kanan Israel selama ini menyalahkan keputusan penarikan tersebut atas kemenangan Hamas dalam pemilu 2006.
Namun, belum jelas apakah rencana Netanyahu ini berupa pendudukan jangka panjang atau operasi militer singkat untuk menghancurkan Hamas dan membebaskan sandera Israel. Kantor Perdana Menteri menolak berkomentar mengenai laporan Channel 12.
Di tengah desakan internasional untuk gencatan senjata guna meredakan krisis kemanusiaan di Gaza, Netanyahu menegaskan tekadnya. "Masih perlu untuk menuntaskan kekalahan musuh di Gaza, membebaskan sandera kami, dan memastikan bahwa Gaza tidak akan pernah lagi menjadi ancaman bagi Israel," tegas Netanyahu kepada rekrutan baru di sebuah pangkalan militer.
Ironisnya, sementara rencana ambisius ini digodok, setidaknya 80 warga Palestina tewas dalam penembakan terbaru Israel. Laporan dari otoritas kesehatan Gaza juga menyebutkan korban jiwa akibat kelaparan dan malnutrisi meningkat. Kondisi ini semakin mempertegas situasi darurat kemanusiaan di Gaza yang terkepung.
