Usulan mengejutkan datang dari Ukraina. Internationalmedia.co.id melaporkan, Presiden Volodymyr Zelensky mengutarakan rencana negosiasi baru dengan Rusia di Turki. Bukan sekadar perundingan biasa, Zelensky menekankan pertemuan ini akan fokus pada isu krusial: pemulangan tawanan perang dan anak-anak Ukraina yang dibawa paksa ke Rusia. Lebih jauh lagi, pertemuan ini diharapkan menjadi batu loncatan menuju puncak pertemuan para pemimpin kedua negara.
Kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina, Rustem Umerov, lah yang mengajukan proposal tersebut. Zelensky menegaskan, perundingan yang efektif hanya bisa terwujud di tingkat pemimpin nasional. Untuk itu, ia meminta para duta besar Ukraina untuk menggalang dukungan internasional terhadap format negosiasi ini. Melalui akun X-nya, Zelensky mendesak negara-negara lain untuk mendukung inisiatif tersebut.

Selain negosiasi, Zelensky juga memaparkan prioritas diplomatik Ukraina lainnya. Di antaranya, memperluas sanksi internasional terhadap Rusia, meningkatkan sistem pertahanan udara, dan menambah pasokan serta pendanaan untuk drone. Ia bahkan menyebut kerja sama baru dengan berbagai negara, dari model Denmark hingga inisiatif artileri Ceko dan dukungan Prancis untuk penerbangan Ukraina. Saat ini, fokus utama adalah pengadaan drone berbagai jenis. Bahkan, koordinasi dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait pertahanan udara dan inisiatif drone bersama tengah dilakukan.
Zelensky juga menekankan pentingnya kemitraan Ukraina di luar NATO dan Uni Eropa, seperti kerja sama Ukraina-Eropa Utara, Ukraina-Eropa Tenggara, dan platform Krimea, serta kemitraan khusus dengan Turki. Meskipun proposal ini telah disampaikan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Rusia, kendati beberapa media lokal telah mengonfirmasi adanya usulan tersebut. Langkah berani Ukraina ini pun kini menjadi sorotan dunia, menanti respons Rusia dan peluang nyata menuju perdamaian.