Internationalmedia.co.id – Gelombang pergerakan pasukan Korea Utara (Korut) ke Rusia kembali menjadi sorotan. Setelah invasi Rusia ke Ukraina, Pyongyang dilaporkan terus mengirimkan personel militernya ke wilayah tetangga. Misi mereka kali ini menimbulkan tanda tanya besar: rekonstruksi infrastruktur atau sesuatu yang lebih dari itu?
Seorang anggota parlemen Korea Selatan (Korsel), Lee Seong Kweun, mengungkapkan informasi mengejutkan ini setelah mendapatkan penjelasan dari badan intelijen Seoul (NIS). Sejak September lalu, sekitar 5.000 tentara Korut dilaporkan telah dikerahkan secara bertahap ke Rusia. Tujuan resmi dari pengerahan ini adalah untuk membantu "rekonstruksi infrastruktur".

Namun, Lee juga menambahkan bahwa intelijen Korsel mendeteksi "tanda-tanda berkelanjutan untuk pelatihan dan seleksi personel dalam persiapan pengerahan pasukan tambahan". Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa jumlah tentara Korut di dekat perbatasan Rusia-Ukraina saat ini diperkirakan mencapai 10.000 personel.
Sebelumnya, pada September lalu, NIS melaporkan bahwa sekitar 2.000 tentara Korut diperkirakan tewas setelah dikerahkan untuk membantu Rusia dalam konflik di Ukraina. Angka ini meningkat signifikan dari laporan April yang menyebutkan jumlah korban perang setidaknya 600 orang.
Badan-badan intelijen Korsel dan Barat menduga bahwa Korut telah mengirimkan lebih dari 10.000 tentaranya ke wilayah Rusia pada tahun 2024, terutama ke wilayah Kursk. Selain personel, Pyongyang juga diduga telah mengirimkan peluru artileri, rudal, dan sistem roket jarak jauh.
Lee juga mengungkapkan bahwa NIS meyakini Korut berencana untuk mengerahkan 6.000 tentara dan teknisi tambahan ke Rusia, dengan sekitar 1.000 personel di antaranya telah tiba. Pengerahan pasukan Korut ke Rusia ini terus menjadi perhatian dan menimbulkan pertanyaan tentang peran sebenarnya mereka di tengah konflik yang sedang berlangsung.

