Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini mengundang sejumlah pakar dan akademisi terkemuka untuk berdiskusi mendalam mengenai penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di area gambut. Dalam pertemuan strategis yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis lalu, Prabowo menegaskan penghormatan tingginya kepada para ahli, sekaligus meminta masukan krusial sebagai dasar pengambilan kebijakan pemerintah. Internationalmedia.co.id – News melaporkan bahwa inisiatif ini menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam mencari solusi komprehensif terhadap permasalahan karhutla yang kerap melanda.
Dalam diskusi tersebut, Prabowo menyodorkan tiga poin utama untuk dibahas secara terbuka. Pertama, ia menyoroti urgensi koreksi regulasi yang dinilai masih memiliki celah. "Masih ada delapan perda di kabupaten yang memberikan celah hukum, seolah-olah membolehkan pembakaran 2 hektare. Ini benar-benar tidak masuk akal," tegas Prabowo, seperti dikutip dari video yang diunggah Sekretariat Presiden. Ia menekankan perlunya ketegasan untuk menutup celah regulasi yang berpotensi memicu karhutla.

Selain itu, Prabowo juga menyoroti kepatuhan perusahaan terhadap ketentuan yang berlaku. Ia mengingatkan bahwa regulasi sudah mengatur kewajiban seperti pembangunan menara pengawas setiap 5 hektare, penyediaan embung air, dan pembentukan tim pemadam kebakaran internal dari karyawan. "Ada perusahaan yang patuh, ada yang tidak. Ini harus kita tertibkan," ujarnya. Ia kemudian meminta pandangan para pakar mengenai langkah terbaik untuk mencegah kebakaran di kawasan hutan.
Prabowo juga mengangkat isu pemanfaatan lahan gambut yang luas di Indonesia. Ia mengajukan pertanyaan krusial kepada para ahli: "Apakah gambut ini bisa kita manfaatkan ke arah produktif? Apakah kita bisa tanam tanaman di atas gambut?" Pertanyaan ini membuka peluang diskusi mengenai potensi ekonomi dan keberlanjutan dari lahan gambut, selain fokus pada pencegahan kebakaran.
Menutup pernyataannya, Prabowo kembali menegaskan posisinya terhadap para ahli. "Jadi Saudara-saudara, jangan salah ya menerima, kadang-kadang saya kalau bicara di audiens, suka dipelintir ya, dibilang seolah saya nggak hormati pakar. Saya paling hormat sama pakar," kata Prabowo. Ia bahkan mengaitkan keberhasilannya sebagai perwira dengan kebiasaannya selalu mencari dan mendengarkan masukan dari pakar. "Mohon saya diberi masukan, apa yang bisa kita lakukan," harapnya, menunjukkan keterbukaan pemerintah terhadap saran dan inovasi dari kalangan akademisi dan peneliti.
