Ketegangan di Yaman memuncak setelah kelompok Houthi mengumumkan status siaga tinggi, merespons ancaman agresi yang diklaim datang dari Amerika Serikat dan Israel. Seruan persatuan nasional digaungkan oleh Houthi kepada rakyat Yaman untuk menghadapi potensi serangan. Internationalmedia.co.id – News melaporkan situasi ini, yang berpotensi memperkeruh stabilitas regional.
Mayor Jenderal Mohammed al-Atifi, Menteri Pertahanan dalam pemerintahan yang dikendalikan Houthi, menegaskan kesiapan penuh pasukannya. "Kami dalam siaga tertinggi untuk menghadapi setiap bentuk agresi terhadap rakyat Yaman," ujarnya, seperti dikutip dari Al Jazeera. Ia menambahkan bahwa fase konflik terkini dengan "musuh Zionis dan Amerika" telah memperkuat persatuan di garis depan dan membuktikan efektivitas operasi militer yang dilakukan oleh "poros jihad dan perlawanan."

Kelompok Houthi diketahui telah secara resmi terlibat dalam konflik yang melibatkan AS dan Israel sejak akhir Maret lalu. Sejak saat itu, mereka melancarkan serangkaian serangan menggunakan rudal balistik jarak jauh dan drone yang menargetkan Israel, membuka front baru dalam gejolak regional. Milisi ini telah berikrar untuk tidak menghentikan serangannya sampai perang di Gaza berakhir, dengan ancaman serius untuk menargetkan situs-situs militer strategis dan mengganggu lalu lintas maritim vital di Laut Merah.
Ancaman yang lebih serius datang dari Hussein al-Ezzi, Wakil Menteri Luar Negeri pemerintahan Houthi. Ia sebelumnya telah mengeluarkan peringatan keras mengenai kemungkinan penutupan Selat Bab al-Mandeb, jalur pelayaran krusial di lepas pantai Yaman. Penutupan ini, menurutnya, bisa terjadi jika mantan Presiden AS Donald Trump terus menjadi penghalang bagi upaya perdamaian.
Dalam pernyataannya di platform X, yang juga dikutip oleh Al Jazeera, al-Ezzi dengan tegas menyatakan, "Jika Sanaa (ibu kota Yaman, yang dikuasai Houthi) memutuskan untuk menutup Bab al-Mandeb, maka seluruh umat manusia dan jin sekalipun akan benar-benar tidak berdaya untuk membukanya." Ia kemudian mendesak, "Oleh karena itu, yang terbaik bagi Trump – dan seluruh dunia yang terlibat – adalah segera mengakhiri semua praktik dan kebijakan yang menghalangi perdamaian, serta menunjukkan rasa hormat yang diperlukan terhadap hak-hak rakyat dan bangsa kami."

