Internationalmedia.co.id – News – Israel telah mengeluarkan instruksi tegas kepada pasukannya untuk menggunakan kekuatan penuh di Lebanon, bahkan di tengah gencatan senjata yang sedang berlangsung. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap potensi ancaman apa pun yang mungkin dihadapi tentara Israel di wilayah tersebut.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan dirinya telah menginstruksikan IDF (Pasukan Pertahanan Israel) untuk bertindak tanpa kompromi, baik di darat maupun udara. Pernyataan ini disampaikan Katz dalam sebuah acara di Tepi Barat yang diduduki, seperti dilaporkan AFP pada Minggu (19/4/2026). Tujuannya adalah melindungi personel militer dari bahaya apapun.

Katz menambahkan, instruksi tersebut juga mencakup penghancuran segala bentuk struktur atau jalan yang terpasang ranjau dan berpotensi membahayakan tentara. Lebih lanjut, militer diperintahkan untuk meratakan rumah-rumah di desa-desa dekat perbatasan yang dicurigai berfungsi sebagai basis teror Hizbullah, yang dianggap mengancam komunitas Israel di perbatasan.
Langkah ini menyusul insiden tragis pada Jumat (17/4), hari pertama gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon berlaku, di mana seorang tentara Israel tewas di Lebanon selatan setelah memasuki bangunan yang dipasangi ranjau. Peristiwa ini memperkuat tekad Israel untuk menciptakan zona keamanan di Lebanon selatan, sebuah tujuan yang telah berulang kali disuarakan oleh Katz.
Sebagai implementasi dari kebijakan ini, pasukan Israel pada Sabtu (18/4) telah melakukan operasi penghancuran di kota Bint Jbeil, lokasi yang sebelumnya menjadi titik pertempuran sengit dengan Hizbullah sebelum kesepakatan gencatan senjata.
Katz juga menguraikan visi jangka panjangnya: "Tujuan utama kampanye di Lebanon adalah pelucutan senjata Hizbullah dan penghapusan ancaman terhadap komunitas di utara, melalui kombinasi tindakan militer dan diplomatik." Ia juga memberikan peringatan keras: "Jika pemerintah Lebanon terus gagal memenuhi kewajibannya, IDF akan bertindak melalui aksi militer berkelanjutan."
Konflik di Lebanon ini merupakan bagian dari eskalasi perang di Timur Tengah sejak awal Maret, ketika Hizbullah, yang didukung Iran, meluncurkan roket ke Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran. Israel kemudian merespons dengan serangan besar-besaran di seluruh Lebanon dan invasi ke Lebanon selatan.

