New York – Pemerintah Iran secara tegas menyatakan bahwa stabilitas di kawasan Teluk yang kaya minyak tidak akan tercapai tanpa adanya jaminan kredibel terhadap potensi serangan di masa mendatang dari Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan ini, seperti dilansir Internationalmedia.co.id – News pada Selasa (28/4/2026), disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, dalam sesi Dewan Keamanan PBB yang digagas Bahrain.
Dalam pertemuan di markas besar PBB pada Senin (27/4) tersebut, puluhan negara menyuarakan kecaman terhadap Iran terkait pengambilalihan kendali atas Selat Hormuz yang strategis. Namun, Iravani bersikukuh bahwa perdamaian dan keamanan di Teluk hanya bisa terwujud jika agresi dihentikan secara total, diikuti dengan "jaminan yang dapat dipercaya" untuk mencegah terulangnya serangan. "Stabilitas dan keamanan yang langgeng di Teluk Persia dan kawasan yang lebih luas hanya dapat dicapai melalui penghentian agresi yang berkelanjutan dan permanen terhadap Iran, dilengkapi dengan jaminan yang kredibel untuk tidak terulangnya serangan dan penghormatan penuh terhadap hak dan kepentingan kedaulatan Iran yang sah," tegas Iravani di hadapan Dewan Keamanan PBB.

Berbicara kepada awak media usai sesi Dewan Keamanan PBB, Iravani melayangkan kritik pedas. Ia menyoroti bagaimana negara-negara anggota hanya fokus mengkritik Iran, tanpa sedikit pun mengecam blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Teheran. "Amerika Serikat bertindak layaknya bajak laut dan teroris, menargetkan kapal-kapal komersial melalui paksaan dan intimidasi, meneror awak kapal, secara ilegal menyita kapal, dan menyandera anggota awak kapal," ujarnya. Ia menambahkan, "Namun, tidak seorang pun dari mereka yang menyatakan keprihatinan terhadap navigasi internasional, berani menyinggung atau mengutuk tindakan teroris ini dalam pertemuan hari ini," sindir Iravani, menuding standar ganda negara-negara anggota Dewan Keamanan.
Lebih lanjut, Iravani menuduh AS dan Israel telah melancarkan "perang agresi skala besar yang tidak beralasan" terhadap Iran. Menurutnya, sejak 28 Februari, kedua negara sekutu tersebut menjadi biang keladi meningkatnya ketegangan di kawasan dan mengganggu keamanan maritim di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa agresi ini melanggar Piagam PBB dan mengancam stabilitas regional serta global, sebagaimana dilansir TRT World.
Iravani secara spesifik menyebut langkah AS memberlakukan blokade maritim, termasuk penyitaan kapal dagang Iran dan penahanan awak kapal, sebagai "langkah-langkah berbahaya" dan "melanggar hukum internasional". Menanggapi hal tersebut, Duta Besar Iran itu menegaskan bahwa Iran, sebagai negara pesisir yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, telah mengambil "langkah-langkah yang diperlukan dan praktis" untuk memastikan navigasi yang aman dan mencegah jalur perairan vital itu digunakan untuk tujuan militer yang bermusuhan.
