Duka menyelimuti Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, setelah seorang ibu hamil dilaporkan tewas akibat terkena peluru nyasar. Insiden tragis ini, yang terjadi di wilayah Sugapa, kini menjadi sorotan setelah Koops TNI Habema menuding Organisasi Papua Merdeka (OPM) sebagai pihak yang bertanggung jawab atas tembakan mematikan tersebut. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan yang menimpa warga sipil di tanah Papua.
Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna, Kepala Penerangan Koops TNI Habema, mengungkapkan bahwa insiden penembakan yang merenggut nyawa ibu hamil tersebut merupakan bagian dari ‘gangguan tembakan’ yang dilancarkan kelompok bersenjata di Sugapa. "Fakta lapangan secara jelas menunjukkan bahwa tembakan berasal dari tiga titik yang berbeda," jelas Wirya, seperti dikutip dari internationalmedia.co.id pada Sabtu (4/7/2026). Tragedi memilukan ini sendiri terjadi di Kampung Mamba, Distrik Sugapa, Intan Jaya, pada Kamis (2/6).

Menurut Wirya, pelaku penyerangan diidentifikasi sebagai kelompok OPM di bawah pimpinan Peles Tigau. Mereka melancarkan tembakan dari tiga lokasi berbeda dalam rentang waktu sekitar 15 menit. "Laporan lapangan, analisis kronologi, serta pemetaan lokasi secara komprehensif mengindikasikan bahwa gangguan tembakan ini dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Peles Tigau," tegasnya, merinci modus operandi mereka.
Rangkaian tembakan dimulai sekitar pukul 18.45 WIT, berasal dari arah Kampung Wandoga. Selang lima menit kemudian, suara tembakan kembali terdengar, kali ini dari kawasan perbukitan di depan Koramil Sugapa. Puncaknya, sekitar pukul 19.00 WIT, kelompok bersenjata tersebut melepaskan tembakan terakhir sebelum akhirnya melarikan diri menuju arah sungai, demikian penjelasan Wirya.
Meskipun terjadi serangan, personel Satgas TNI yang berada di lokasi memilih untuk tidak membalas tembakan. Keputusan ini diambil mengingat kondisi lapangan yang sangat menantang, meliputi hujan deras, kabut tebal, dan jarak pandang yang amat terbatas. Prioritas utama adalah menghindari potensi risiko terhadap keselamatan masyarakat sipil, sehingga personel memilih untuk tetap berada di posisi perlindungan (stelling) sambil terus memantau perkembangan situasi.
Wirya menambahkan, hasil analisis spasial yang dilakukan menunjukkan bahwa ketiga titik sumber tembakan OPM berjarak antara 900 hingga 1.500 meter satu sama lain. Yang lebih krusial, lokasi korban ditemukan sekitar 321 meter dari titik tembakan pertama dan jauh lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI. Data ini menjadi kunci dalam mendalami kronologi insiden.
"Peristiwa tragis ini dengan jelas menggarisbawahi bahaya penggunaan kawasan permukiman sebagai basis aktivitas OPM, yang secara langsung berpotensi menimbulkan risiko serius bagi masyarakat sipil yang tidak terlibat dalam konflik," tegas Wirya. Ia menekankan bahwa Koops TNI Habema berkomitmen untuk terus mengedepankan langkah-langkah yang terukur dan profesional, dengan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama dalam setiap operasi. Analisis mendalam atas seluruh fakta lapangan masih terus berlangsung.
