Internationalmedia.co.id – News – Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menyerukan sebuah era baru dalam hubungan bilateral antara Indonesia dan China. Menurutnya, kemitraan strategis kedua negara tidak lagi cukup hanya berfokus pada perdagangan dan investasi konvensional, melainkan harus diperluas untuk mengakselerasi transisi energi, memperkokoh ketahanan energi nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih ramah lingkungan. Pernyataan ini disampaikan Eddy dalam forum Track 1.5 Indonesia-China Dialogue on Cooperation in a Changing Global Order yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta.
Eddy Soeparno, yang juga merupakan politikus dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), menjelaskan bahwa dinamika tatanan global yang berubah cepat—mulai dari ketegangan geopolitik, ancaman perubahan iklim, hingga transformasi ekonomi dunia—menuntut Indonesia untuk membangun kemitraan internasional yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah, transfer teknologi, dan penguatan kapasitas industri dalam negeri.

"Indonesia membutuhkan mitra strategis yang mampu mempercepat transformasi ekonomi rendah karbon. Dalam konteks ini, kerja sama dengan China harus diarahkan pada investasi berkualitas, transfer teknologi, pengembangan industri domestik, serta penciptaan lapangan kerja hijau," tegas Eddy pada Sabtu (1/8/2026), sebagaimana dikutip internationalmedia.co.id.
Ia menambahkan, krisis iklim kini telah melampaui sekadar isu lingkungan dan menjelma menjadi tantangan pembangunan nasional yang mendesak. Berbagai dampak seperti banjir, kekeringan, kebakaran hutan, hingga terganggunya produktivitas sektor pertanian sudah mulai dirasakan. Kondisi ini menuntut langkah mitigasi yang jauh lebih progresif melalui transisi energi dan penguatan sektor kehutanan.
Dalam kesempatan tersebut, Eddy juga menyoroti keberhasilan China dalam membangun kepemimpinan global di sektor energi baru dan terbarukan. China saat ini mendominasi sekitar 90% produksi panel surya dunia, 70% sistem penyimpanan energi berbasis baterai (BESS), dan 65% manufaktur turbin angin, sekaligus menjadi produsen kendaraan listrik terbesar. Namun, Eddy mengingatkan, China juga tetap mempertahankan penggunaan energi fosil sebagai bagian dari strategi menjaga keandalan sistem energi selama proses transisi berlangsung.
"Pengalaman China menunjukkan bahwa transisi energi harus dijalankan secara realistis. Indonesia perlu mempercepat pengembangan energi terbarukan tanpa mengorbankan ketahanan energi, keterjangkauan harga, maupun keandalan pasokan listrik," jelas Eddy.
Sebagai bagian dari strategi nasional, Eddy menekankan pentingnya perencanaan hingga implementasi Program Pembangunan 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sebuah arahan dari Presiden RI Prabowo Subianto. Program ini menjadi fondasi krusial menuju kemandirian energi nasional, dengan proyeksi kebutuhan investasi sekitar US$100 miliar—terdiri atas sekitar US$70 miliar dari sektor swasta dan US$30 miliar dari pemerintah. Program ini juga bertujuan menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia melalui integrasi PLTS dan BESS.
"Keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kepastian regulasi, percepatan proses pengadaan proyek, kepastian tarif, serta skema pembiayaan yang kompetitif agar mampu menarik investasi berskala besar," imbuhnya.
Eddy menilai, kerja sama Indonesia-China telah terwujud secara konkret melalui berbagai proyek strategis, mulai dari pengembangan industri baterai kendaraan listrik, pembangunan PLTS, penguatan jaringan transmisi, hingga pengolahan sampah menjadi energi.
Lebih lanjut, Eddy menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi teknologi hijau global. Sebaliknya, Indonesia harus memposisikan diri sebagai pusat pertumbuhan industri energi bersih di kawasan, memanfaatkan sumber daya alam (SDA) yang melimpah, potensi energi terbarukan, serta kemitraan strategis dengan negara-negara sahabat.
"Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi kekuatan baru energi bersih di Asia. Dengan dukungan kebijakan yang konsisten, kepastian investasi, dan kemitraan strategis yang saling menguntungkan, termasuk dengan China, kita dapat membangun ketahanan energi sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional menuju Indonesia Emas 2045," pungkas Eddy.
Forum penting tersebut juga turut dihadiri oleh Founder FPCI Dino Patti Djalal dan Utusan Khusus Pemerintah China Bidang Perubahan Iklim Liu Zhenmin.
