Internationalmedia.co.id – Pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Leo XIV, tanpa tedeng aling-aling mengkritik keras para aktivis anti-imigran yang dinilai sengaja menyulut ketakutan terhadap Islam di Eropa dan Amerika Serikat (AS). Paus Leo menyerukan agar kerjasama harmonis antara umat Kristen dan Muslim di Lebanon, negara yang baru saja dikunjunginya, dijadikan teladan bagi dunia Barat.
Paus berusia 70 tahun ini menyampaikan kritik pedasnya kepada awak media dalam penerbangan kembali ke Roma, usai lawatan ke Turki dan Lebanon. Kunjungan ini menjadi perjalanan luar negeri perdananya sejak terpilih sebagai pemimpin 1,4 miliar umat Katolik sedunia pada bulan Mei lalu.

Menurut Paus Leo, sentimen anti-Muslim kerap kali dipicu oleh kelompok-kelompok yang menentang imigrasi, dengan tujuan menjauhkan orang-orang yang berbeda negara asal, agama, atau ras. Kunjungan ke Lebanon, ditegaskannya, adalah upaya untuk membuktikan bahwa dialog dan persahabatan antara Muslim dan Kristen adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi.
Paus Leo mengungkapkan bahwa kisah-kisah tentang umat Kristen dan Muslim yang saling membantu selama perjalanannya menjadi pelajaran berharga untuk mengurangi rasa takut yang berlebihan. Sebagai seorang yang lahir di AS dan menghabiskan dua dekade sebagai misionaris di Peru, Paus Leo sangat kritis terhadap gelombang nasionalisme yang berkembang di Eropa dan AS.
Ia menyerukan diakhirinya "perlakuan tidak manusiawi" terhadap para migran, sebuah sindiran terhadap kebijakan imigrasi di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Paus Leo juga mendesak umatnya untuk menolak "pola pikir eksklusif" yang dianggapnya memicu nasionalisme berlebihan di seluruh dunia.
Gereja Katolik, tegas Paus Leo, memiliki kewajiban untuk membuka batasan antar masyarakat dan meruntuhkan penghalang antara kelas dan ras.
