Sebuah pemandangan tak biasa terjadi di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru-baru ini. Sejumlah delegasi, termasuk perwakilan dari Indonesia, secara kompak melakukan aksi walk out tepat saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersiap menyampaikan pidatonya. Momen ini, yang terekam dalam video yang diterima Internationalmedia.co.id – News dari Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di New York dan dirilis Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, menunjukkan barisan kursi delegasi Indonesia yang tiba-tiba kosong, mengikuti langkah puluhan delegasi negara lain.
Kontras dengan aksi protes tersebut, tim Netanyahu di dalam ruangan justru berdiri dan memberikan tepuk tangan. PM Israel itu bahkan tak segan melontarkan kata-kata pedas, menyebut mereka yang meninggalkan ruangan sebagai ‘pengecut’. "Jika masih ada pengecut moral lainnya yang belum meninggalkan ruangan ini, silakan pergi," tantang Netanyahu kepada para delegasi yang memilih keluar. Pidato kontroversial ini sendiri disampaikan Netanyahu di tengah persiapan pemilu Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober mendatang, sebuah panggung yang ia manfaatkan untuk menyerang berbagai pihak yang selama ini kritis terhadap kebijakan Israel.

Salah satu sasaran utama Netanyahu adalah Mamdani, Wali Kota New York yang juga merupakan politikus Muslim pertama menduduki jabatan tersebut. Netanyahu secara terang-terangan menuduh Mamdani sebagai sosok "antisemit" dan mengklaim bahwa banyak warga Yahudi merasa tidak aman sejak Mamdani terpilih. Sebelumnya, Mamdani memang dikenal vokal mengkritik Netanyahu, bahkan sempat menyatakan akan mengeksekusi surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) terhadap Netanyahu jika memiliki kewenangan, meskipun kemudian ia mengakui keterbatasannya. ICC sendiri pada tahun 2024 telah menyatakan adanya dasar yang masuk akal untuk meyakini Netanyahu bertanggung jawab atas kejahatan perang dalam operasi Israel di Gaza, tuduhan yang dibantah keras oleh Netanyahu.
Tak hanya itu, Netanyahu juga melontarkan kritik tajam kepada Inggris dan Prancis, dua negara yang selama ini dikenal sebagai mitra Israel namun belakangan semakin terbuka dalam mengkritisi kebijakan pemerintah Israel. Kedua negara tersebut diketahui telah memberlakukan sejumlah sanksi terbatas terhadap ekspor Israel dari wilayah Tepi Barat yang diduduki. Menanggapi tuduhan bahwa Israel menjalankan kolonialisme, Netanyahu membalas dengan menyinggung sejarah kolonial kedua negara tersebut. "Mereka menuduh Israel, Israel yang kecil, melakukan kolonialisme. Dan siapa yang menuduh kami? Di antara mereka adalah orang-orang di Inggris dan Prancis. Demi Tuhan, mereka yang menciptakan istilah itu," tukas Netanyahu, menyindir balik.
Hubungan Netanyahu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron sendiri telah lama tegang. Tahun lalu, Macron secara aktif mendorong negara-negara Barat untuk mengakui Palestina sebagai negara dalam sidang Majelis Umum PBB. Bahkan, dalam pidatonya di PBB tahun ini, Macron kembali mengkritik keras kondisi di Gaza dan Tepi Barat, menambah daftar panjang ketegangan diplomatik antara kedua pemimpin.
