Internationalmedia.co.id – News – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya meluncurkan inisiatif ambisius bertajuk Lomba Kampung Pancasila 2026. Kompetisi berskala kota ini dirancang untuk menggerakkan 1.360 Rukun Warga (RW) yang tersebar di 153 kelurahan se-Surabaya, bertujuan utama menguatkan kembali fondasi gotong royong, kemandirian, serta meningkatkan kesejahteraan di tengah masyarakat.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjadikan momen lomba ini sebagai katalisator untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila dalam keseharian warga. Esensi Lomba Kampung Pancasila, menurut Eri, adalah mengembalikan prioritas pada semangat gotong royong, sebagaimana filosofi luhur Pancasila. "Saya berharap dengan kembali kepada Kampung Pancasila ini, maka gotong royong, saling tolong menolong dan menjaga dilakukan di Kota Surabaya," ungkap Eri dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/9/2026).

Eri menyadari bahwa beragam persoalan sosial di tengah masyarakat tidak akan mampu diselesaikan hanya oleh Pemkot Surabaya. Sinergi seluruh elemen, mulai dari tingkat RT, RW, hingga Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), menjadi fondasi utama dalam membangun kota. "Surabaya maju bukan karena wali kotanya, tapi karena warganya yang ditopang oleh gotong-royong yang menjadi ciri khas Pancasila. Siapa yang bisa menggerakkan adalah RT, RW, LPMK dan seluruh warga Kota Surabaya," tegasnya.
Proses penjurian Lomba Kampung Pancasila akan berlandaskan empat pilar fundamental penilaian: lingkungan, kemasyarakatan, ekonomi, dan sosial budaya. Keempat pilar krusial ini diharapkan mampu diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari warga. "Insyaallah ketika itu berjalan, maka lingkungan juga akan terjaga, ekonomi akan bergerak, jiwa-jiwa sosial saling membantu akan bergerak," imbuh Eri.
Pemkot Surabaya juga menerjunkan langsung jajaran Perangkat Daerah (PD) sebagai pendamping aktif atau "pengampu" di setiap kampung. Kehadiran aparat pemerintah dinilai mutlak untuk memberikan teladan nyata, bukan sekadar menyusun kebijakan. "Pemerintah harus menjadi bagian, bukan hanya memerintah, tetapi memberikan teladan. Ini tentang bagaimana mengembalikan jiwa Pancasila agar dijalankan dalam keseharian, bukan hanya dibaca saat upacara," tegas Eri, seraya menambahkan bahwa Perangkat Daerah yang gagal membina wilayahnya akan menerima ‘bendera hitam’ sebagai teguran keras.
Harapan Eri, kompetisi ini dapat melahirkan perubahan positif dan nyata di setiap sudut perkampungan. "Saya berharap output dan outcome dari lomba Kampung Pancasila ini adalah perubahan kampung yang aman, kampung yang tidak ada pencurian motor, kampung yang bisa ramah anak dan perempuan, kampung yang sejahtera," harapnya. Ia yakin hal ini terwujud berkat budaya arek Surabaya yang memang saling menolong dan bergotong royong.
Ketua Satgas Kampung Pancasila sekaligus Kepala BPBD Kota Surabaya, Irvan Widyanto, menjabarkan secara teknis mengenai empat pilar basis penilaian tersebut. Pilar lingkungan menitikberatkan pada program pengurangan sampah melalui praktik pemilahan mandiri. Pilar kemasyarakatan mencakup jaminan keamanan lingkungan, seperti keberadaan CCTV dan jadwal jaga malam. Adapun pilar ekonomi menyoroti kepedulian warga dalam membantu masyarakat kurang mampu dan geliat UMKM. "Artinya, di level RT dan RW bagaimana warga yang mampu bisa membantu warga yang kurang mampu. Itu filosofinya," jelas Irvan.
Pilar sosial budaya berfokus pada kualitas hidup seperti akses kesehatan, pendidikan, dan atensi terhadap anak putus sekolah. Irvan menerangkan, tahapan lomba tingkat kota ini akan bergulir panjang sejak September hingga Desember 2026, mencakup peluncuran, pendaftaran secara daring, dan seleksi administrasi yang merujuk pada rekam jejak data di aplikasi Sayang Warga. "Dari proses penilaian dilanjutkan melalui verifikasi lapangan. Nah, verifikasi lapangan ini langsung dilakukan oleh tim juri dari perangkat daerah pemerintah kota, akademisi, media, dan praktisi," tutur Irvan, menambahkan bahwa pilar lingkungan dan ekonomi akan memiliki bobot penilaian terbesar.
Di sisi lain, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Surabaya Eddy Christijanto memandang program kompetisi ini berakar dari kultur asli warganya. "Sebenarnya kehidupan masyarakat di Surabaya itu nilai-nilai Pancasila sudah membumi. Ini bagaimana kita ingin bangkitkan kembali dalam bentuk semacam sistem sehingga masyarakat bisa melihat nilai-nilai Pancasila di Surabaya itu penerapannya seperti ini," ujar Eddy. Ia menekankan bahwa dampak program ini harus dirasakan langsung oleh masyarakat, agar "maju bareng, sejahtera bareng, sehat bareng."
Pemkot Surabaya telah menyiapkan anggaran hadiah khusus bagi 35 RW terbaik, yang akan diklasifikasikan berdasarkan jumlah rukun tetangganya. Selain itu, 165 RW lainnya yang berhasil masuk dalam 200 besar akan menerima bantuan sebesar Rp 10 juta. Agenda Lomba Kampung Pancasila 2026 ini dijadwalkan akan ditutup secara meriah melalui malam penganugerahan pada 11 atau 12 Desember mendatang. "Program Kampung Pancasila insyaallah akan terus berlanjut siapapun wali kotanya, siapapun pejabatnya. Karena ini demi kebaikan seluruh warga Surabaya," pungkas Eddy.
