Seorang prajurit penjaga perdamaian Prancis yang bertugas di bawah misi PBB, UNIFIL, di Lebanon selatan, dilaporkan meninggal dunia pada Rabu (22/4), setelah sebelumnya terluka parah dalam sebuah serangan. Kematian ini menambah duka mendalam setelah prajurit lainnya, Florian Montorio, gugur di tempat kejadian dalam insiden yang sama pada Sabtu (18/4) lalu. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Presiden Macron dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa prajurit yang tidak disebutkan namanya tersebut menghembuskan napas terakhirnya akibat luka-luka yang diderita. "Seorang penjaga perdamaian Prancis, yang terluka di Lebanon selatan pada hari Sabtu, telah meninggal dunia," kata Macron, seperti dilansir Aljazeera dan AFP. Serangan mematikan itu terjadi di desa Ghandouriyeh, sebuah wilayah yang kerap menjadi titik panas di Lebanon selatan.

Insiden tersebut, yang menargetkan pasukan penjaga perdamaian PBB, menewaskan Florian Montorio dari Resimen Insinyur Parasut ke-17 di lokasi kejadian. Penilaian awal yang dilakukan oleh UNIFIL mengindikasikan bahwa serangan itu merupakan "serangan yang disengaja" dan kemungkinan besar didalangi oleh aktor non-negara, dengan dugaan kuat mengarah pada kelompok Hizbullah. Macron lebih lanjut menegaskan, "Seorang tentara Prancis kedua meninggal pada hari Rabu akibat luka-lukanya yang diderita dalam penyergapan akhir pekan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon yang dituduhkan kepada Hizbullah."
Selain dua prajurit yang gugur, tiga tentara lainnya juga dilaporkan terluka dalam serangan tersebut, dengan dua di antaranya mengalami luka serius. Informasi awal mengenai serangan ini telah diberitakan oleh internationalmedia.co.id, mengutip AFP, CNN, dan Reuters, pada Minggu (19/4), yang saat itu melaporkan satu kematian dan tiga luka-luka.
Misi UNIFIL, yang bertugas menjaga perdamaian dan stabilitas di perbatasan Lebanon-Israel sejak tahun 1978, kini kembali berduka. Kejadian ini memicu seruan untuk penyelidikan menyeluruh guna mengidentifikasi pelaku dan memastikan pertanggungjawaban, sekaligus menyoroti risiko tinggi yang dihadapi pasukan perdamaian di wilayah konflik yang terus bergejolak.
