Sebuah insiden tragis mengguncang misi penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan, menyebabkan seorang tentara Prancis gugur dan tiga lainnya terluka, dua di antaranya serius. Presiden Prancis Emmanuel Macron segera melontarkan kecaman keras atas serangan yang ia sebut ‘tidak dapat diterima’ ini. Menurut laporan Internationalmedia.co.id – News, kecaman tersebut disampaikan Macron dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam.
Para tentara yang menjadi korban merupakan bagian dari misi UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) yang sedang bertugas ‘membersihkan jalan’ menuju pos UNIFIL yang terisolasi akibat pertempuran di wilayah tersebut. Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Catherine Vautrin, mengonfirmasi bahwa patroli tersebut diserang saat menjalankan misi vital ini. Serangan yang terjadi di desa Ghandouriyeh, Lebanon selatan, menewaskan tentara Prancis tersebut akibat tembakan senjata ringan langsung. UNIFIL dalam pengkajian awalnya mengindikasikan bahwa tembakan berasal dari aktor non-negara dan merupakan ‘serangan yang disengaja’.

Macron secara spesifik menyebutkan bahwa bukti awal mengarah pada kelompok bersenjata yang didukung Iran, mendesak otoritas Lebanon untuk segera mengambil tindakan terhadap pihak yang bertanggung jawab. Namun, kelompok Hizbullah dengan tegas membantah keterlibatannya, menyatakan ‘keterkejutannya atas posisi yang terburu-buru membuat tuduhan tanpa dasar’ terhadap mereka.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, turut mengutuk serangan ini, menyerukan semua pihak untuk ‘menghormati penghentian permusuhan dan gencatan senjata’. Dari pihak Lebanon, tentara Lebanon mengutuk penembakan tersebut dan telah membuka penyelidikan. Presiden Aoun menyampaikan belasungkawa mendalam dan memerintahkan investigasi segera, sementara Perdana Menteri Salam juga mengecam keras insiden ini.
UNIFIL pertama kali dikerahkan pada tahun 1978 dan telah bertahan melalui berbagai konflik berturut-turut, termasuk perang tahun 2024 di mana posisinya berulang kali menjadi sasaran tembakan. Insiden ini menambah ketegangan di wilayah yang sudah rentan, menyoroti tantangan berat yang dihadapi pasukan perdamaian dalam menjaga stabilitas. Penyelidikan mendalam diharapkan dapat mengungkap dalang di balik serangan mematikan ini dan memastikan keadilan bagi para korban.

