Internationalmedia.co.id – Ketegangan kembali membara di perbatasan Israel-Lebanon. Militer Israel melancarkan serangan udara ke dua kota di wilayah selatan Lebanon, menewaskan sedikitnya 13 orang. Serangan ini diklaim sebagai respons terhadap aktivitas kelompok militan Hizbullah, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.
Serangan yang menghantam kamp pengungsi Palestina di Lebanon selatan ini menjadi yang paling mematikan sejak gencatan senjata yang ditengahi tahun lalu. Meskipun gencatan senjata November 2024 bertujuan mengakhiri permusuhan berkepanjangan, Israel terus melakukan operasi militer di Lebanon, dengan alasan menargetkan infrastruktur Hizbullah.

Militer Israel (IDF) dalam pernyataannya mengklaim serangan tersebut menyasar lokasi-lokasi yang digunakan Hizbullah untuk aktivitas teror. Sebelum serangan, IDF bahkan telah menyebarkan peringatan evakuasi melalui peta yang diunggah di platform X, mengidentifikasi bangunan-bangunan yang akan menjadi target di kota Deir Kifa dan Shehur.
Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon melaporkan dua serangan terpisah menghantam kedua kota tersebut. Israel menuduh Hizbullah melanggar gencatan senjata dengan membangun kembali aktivitas militernya di wilayah tersebut. Sementara itu, Lebanon, yang berada di bawah tekanan internasional untuk melucuti senjata Hizbullah, menuduh Israel melanggar gencatan senjata dengan serangan-serangannya dan mempertahankan pasukan di wilayah selatan Lebanon.
Sebelumnya, serangan Israel terhadap sebuah kendaraan di Tiri, Lebanon selatan, juga menewaskan satu orang dan melukai 11 lainnya. Israel mengklaim korban tewas adalah anggota Hizbullah, namun laporan lain menyebutkan korban bekerja untuk pemerintah kota setempat dan serangan terjadi saat sebuah bus universitas melintas.
Ketegangan ini semakin meningkat setelah Israel mengklaim telah menyerang kompleks pelatihan Hamas di kamp pengungsi Ain al-Helweh, Lebanon selatan. Namun, Hamas membantah memiliki instalasi militer di kamp pengungsi tersebut.
Situasi di perbatasan Israel-Lebanon saat ini sangat tegang dan rentan terhadap eskalasi lebih lanjut. Upaya diplomatik mendesak diperlukan untuk meredakan ketegangan dan mencegah konflik yang lebih luas.

