Internationalmedia.co.id Pemerintah Meksiko dikabarkan tengah mempertimbangkan ulang kebijakan pengiriman minyak ke Kuba. Langkah ini diambil di tengah kekhawatiran serius akan potensi pembalasan dari Amerika Serikat, terutama jika Donald Trump kembali berkuasa.
Tekanan dari AS terhadap Kuba semakin meningkat, terutama setelah blokade terhadap kapal tanker minyak Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Kondisi ini menjadikan Meksiko sebagai satu-satunya harapan bagi Kuba yang tengah dilanda krisis energi parah. Namun, peran krusial Meksiko ini justru menempatkan negara tersebut dalam radar Washington.

Donald Trump bahkan secara terbuka menyatakan bahwa "TIDAK AKAN ADA LAGI MINYAK ATAU UANG YANG AKAN DIKIRIM KE KUBA – NOL!" Pernyataan keras ini semakin memperburuk suasana dan membuat pemerintah Meksiko was-was.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, sebelumnya menegaskan komitmen untuk melanjutkan pengiriman minyak berdasarkan kontrak jangka panjang dan sebagai bentuk bantuan internasional. Namun, sumber internal pemerintah mengungkapkan bahwa kebijakan ini kini tengah dievaluasi secara mendalam.
Kekhawatiran utama adalah potensi permusuhan dengan Trump, yang dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan tekanan terhadap Meksiko. Trump bahkan menuding Meksiko dikendalikan oleh kartel dan mengisyaratkan kemungkinan serangan darat.
Sheinbaum sendiri telah berulang kali menekankan bahwa tindakan militer AS sepihak di wilayah Meksiko akan menjadi pelanggaran berat terhadap kedaulatan negara.
"Ada kekhawatiran yang semakin meningkat bahwa Amerika Serikat dapat mengambil tindakan sepihak di wilayah kami," ungkap seorang sumber pemerintah Meksiko.
Selain itu, pemerintah Meksiko juga menyoroti peningkatan aktivitas drone Angkatan Laut AS di atas Teluk Meksiko sejak Desember lalu. Data pelacakan penerbangan menunjukkan bahwa drone-drone tersebut kerap mengikuti rute yang dilalui kapal tanker pembawa bahan bakar Meksiko ke Kuba.
Situasi ini menempatkan Meksiko dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka ingin menjaga hubungan baik dengan Kuba. Di sisi lain, ancaman pembalasan dari AS, terutama di bawah kepemimpinan Trump, tidak bisa diabaikan. Keputusan akhir mengenai pengiriman minyak ke Kuba akan menjadi ujian berat bagi pemerintahan Sheinbaum.
