Kejutan besar mengguncang Korea Selatan. Internationalmedia.co.id melaporkan, Kim Keon Hee, mantan Ibu Negara Korsel, kini harus merasakan dinginnya jeruji besi. Perempuan yang dulunya mendampingi sang suami di Istana Kepresidenan, kini justru mendekam di tahanan atas tuduhan manipulasi saham dan korupsi.
Jaksa penuntut umum mengeluarkan surat perintah penangkapan Kim setelah Pengadilan Distrik Pusat Seoul menyetujui permohonan mereka. Alasan pengadilan? Risiko perusakan barang bukti. Penangkapan ini merupakan peristiwa bersejarah bagi Korea Selatan, karena untuk pertama kalinya, mantan Presiden dan Ibu Negara sama-sama mendekam di penjara.

Dakwaan terhadap Kim meliputi pelanggaran hukum pasar modal dan investasi keuangan, serta hukum dana politik. Ia diduga terlibat dalam manipulasi saham pada periode 2009-2012. Selain itu, sebuah video yang beredar memperlihatkan Kim menerima tas tangan Dior dari seorang penggemar saat suaminya masih menjabat Presiden, memicu kritik publik karena diduga melanggar undang-undang antikorupsi. Ia juga dituduh ikut campur dalam pencalonan anggota parlemen, melanggar hukum pemilu.
Kim sendiri telah menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama sepenuhnya dengan penyelidikan. Namun, permintaan maafnya tak cukup untuk menghentikan proses hukum yang berjalan.
Tak hanya Kim, kantor pusat Partai Kekuatan Rakyat (PPP), partai yang menaungi mantan Presiden Yoon Suk Yeol, juga digeledah oleh jaksa. Penggeledahan ini terkait dugaan campur tangan Kim dalam pemilu parlemen. Langkah ini menuai kecaman dari oposisi yang menyebutnya sebagai "perilaku gangster".
Kasus ini semakin rumit dengan latar belakang deklarasi darurat militer yang mengejutkan oleh Yoon pada Desember lalu, yang berujung pada pemakzulan dan penahanannya sejak Juli. Jaksa juga menggeledah perusahaan interior yang diduga terkait dengan Kim, menyelidiki dugaan favoritisme dalam renovasi kantor kepresidenan. Kisah Kim Keon Hee menjadi bukti nyata betapa roda kehidupan bisa berputar 180 derajat, dari puncak kejayaan hingga ke belakang jeruji besi.
