Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) yang berlangsung meriah di Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi panggung bagi kekayaan budaya dan produk unggulan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari seluruh penjuru Indonesia. Salah satu provinsi yang berhasil mencuri perhatian adalah Maluku Utara, dengan beragam kerajinan tangan dan produk khasnya. Internationalmedia.co.id – News melaporkan, dari pantauan di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, stan Maluku Utara menampilkan koleksi memukau, mulai dari batik eksotis, tenun tradisional, hingga batu bacan yang legendaris, bahkan ada yang dibanderol fantastis hingga Rp 38 juta.
Keunikan produk UMKM Maluku Utara ini tak lepas dari identitas daerah asalnya, seperti Kota Ternate, Halmahera, dan Pulau Bacan. Batik tulis menjadi salah satu primadona, menampilkan motif-motif yang kaya akan narasi budaya dan alam Maluku Utara. Pengunjung dapat menemukan corak rempah-rempah seperti pala dan cengkeh, keindahan burung bidadari, representasi batu bacan, hingga simbol-simbol peninggalan Kesultanan Ternate seperti Benteng Oranje dan Benteng Kastela.

"Proses pembuatan motif khas batu bacan pada batik tulis merupakan tantangan tersendiri, karena memerlukan teknik melukis tangan yang presisi, tidak bisa hanya dicetak atau diprint," jelas Mukhlis Abdul Rauf, seorang pengrajin batik dari Maluku Utara. Sarung batik tulis ini ditawarkan dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 625 ribu hingga Rp 1,2 juta, bergantung pada kerumitan motif. Selain sarung, tersedia juga syal dengan harga Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu, serta tas batik seharga Rp 200 ribu.
Keindahan lain yang dipamerkan adalah sarung tenun Rapudino khas Kota Ternate, yang memukau dengan motif cengkeh, wajik, iris pandan, dan kombinasi bambu. Tenun ini dibanderol mulai Rp 1 juta untuk pewarna sintetis dan Rp 1,2 juta untuk pewarna alami. Inovasi juga terlihat pada produk ecoprint, seperti tas jinjing, gantungan tas, dan sepatu yang dibuat menggunakan teknik cetak daun alami, dengan harga mulai Rp 55 ribu hingga Rp 285 ribu.
Berbagai kerajinan tangan lain turut melengkapi koleksi, mulai dari miniatur parang dan salawaku, hingga gelang dan kalung, dengan harga mulai Rp 30 ribu sampai Rp 400 ribu. Namun, sorotan utama tak dapat dilepaskan dari pesona cincin batu bacan asal Halmahera Selatan, yang selalu berhasil memikat pandangan pengunjung.
Ikram, seorang pengrajin batu bacan, menjelaskan bahwa batu bacan dari Desa Doko dikenal dengan warna hijau khasnya serta kandungan mineral kalsedon dan krisokola. "Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan metamorfosisnya, di mana batu ini bisa berubah warna dari cokelat kehitaman hingga menjadi bening dan bersih," ungkap Ikram, menyoroti keunikan batu permata tersebut.
Harga cincin batu bacan yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari Rp 700 ribu hingga mencapai puncaknya di angka Rp 38 juta untuk kualitas premium. Selain itu, koleksi juga mencakup cincin Kalsedoni Obi nonserat seharga sekitar Rp 8 juta, dan jenis berserat yang dimulai dari Rp 1 juta.
Pameran produk UMKM ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-46 Dekranas yang berlangsung selama empat hari, dari Rabu (8/7) hingga Sabtu (11/7) di TSM Makassar. Kehadiran Maluku Utara dengan berbagai produk kerajinan khasnya sukses memperkaya khazanah budaya Indonesia yang dipamerkan, sekaligus membuka peluang pasar bagi para pelaku UMKM di tingkat nasional.
