Internationalmedia.co.id – Korea Utara (Korut) kembali memicu ketegangan di kawasan dengan meluncurkan setidaknya satu rudal balistik pada hari Rabu (22/10). Aksi ini menjadi yang pertama kali dilakukan Korut sejak Juni lalu, tepatnya setelah Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menjabat.
Peluncuran rudal ini terjadi menjelang pertemuan penting para pemimpin APEC, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dijadwalkan berlangsung di Gyeongju, Korea Selatan. Kepala Staf Gabungan Korea Selatan melaporkan bahwa rudal tersebut terbang ke arah timur.

Langkah provokatif Korut ini dilakukan di tengah harapan adanya perundingan antara Trump dan pemimpin Korut, Kim Jong Un. Trump sebelumnya menyatakan keinginannya untuk bertemu Kim Jong Un, bahkan mungkin tahun ini. Namun, Pyongyang menegaskan bahwa mereka tidak akan melepaskan program persenjataan nuklirnya sebagai syarat perundingan.
Baru-baru ini, Korut memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) "terkuat" mereka dalam parade militer yang dihadiri pejabat tinggi dari Rusia dan China. Rudal Hwasong-20 diklaim memiliki jangkauan tanpa batas. Selain itu, Kim Jong Un juga mengawasi uji coba mesin berbahan bakar padat untuk rudal nuklir jarak jauh, yang menurut media pemerintah Korut merupakan uji coba kesembilan dan terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa uji coba penuh ICBM baru dapat dilakukan dalam beberapa bulan mendatang.
Uji coba rudal jarak jauh Korut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan tampaknya mampu mencapai daratan Amerika Serikat. Pyongyang juga mengembangkan varian berbahan bakar padat yang lebih mudah dimobilisasi, disembunyikan, dan diluncurkan dengan cepat dibandingkan rudal berbahan bakar cair.
Persyaratan Amerika Serikat agar Kim menyerahkan senjata nuklirnya menjadi titik perdebatan utama antara kedua negara. Korut dikenai sanksi PBB atas program nuklir dan rudalnya, dan berulang kali menyatakan tidak berniat menyerahkannya. Meskipun demikian, Pyongyang baru-baru ini menunjukkan keterbukaan baru untuk berunding dengan Amerika Serikat. Sebelumnya, Kim dan Trump telah bertemu tiga kali dalam pertemuan puncak sebelum perundingan di Hanoi, Vietnam, gagal pada tahun 2019 karena perbedaan pendapat mengenai konsesi terkait senjata atom.
